Thursday, 4 February 2021

[Yosua 8:1-2]
Kamis, 4 Februari 2021

"Janganlah takut dan janganlah tawar hati"
Bacaan: Yosua 8:1-2

"Janganlah takut dan janganlah tawar hati."  Apakah perkataan ini ada hubungannya dengan hidup Saudara saat ini? Perhatikan, itu adalah perkataan Tuhan sendiri. Mengapa Tuhan mengatakannya?

Perhatikan peristiwa sebelumnya (Yosua 7). Kekalahan yang memalukan bagi bangsa Israel atas kota Ai dan kejadian-kejadian tragis di antara keluarga Akhan menyebabkan Yosua patah semangat dan menjadi ketakutan. Kesuraman dan keputusasaan menyelinap ke seluruh perkemahan bangsa Israel. Keputusasaan atas masa lalu dan ketakutan akan masa depan adalah dua reaksi yang sering menyertai kegagalan.

Sekarang perhatikan. Dan karena Yosua melaksanakan semua yang diperintahkan Tuhan mengenai peristiwa Akhan, "Lalu surutlah murka TUHAN yang menyala-nyala itu" (Yosua 7:26). Setelah itu, Tuhan sendiri mengambil langkah yang meyakinkan Yosua kembali bahwa Dia sungguh-sungguh menyertainya dan akan menolongnya memimpin bangsa Israel menuju ke kemenangan-kemenangan berikutnya.

"Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya, dan haruslah kaulakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kaulakukan kepada Yerikho dan rajanya." (Yosua 8:1,2a). Renungkan...bagaimana perasaan Yosua setelah mendengar perkataan Tuhan ini? Bagaimana firman Tuhan ini menjadikan Yosua merasa aman?

"Janganlah takut dan janganlah tawar hati"  adalah perkataan yang diucapkan Musa bertahun-tahun sebelumnya kepada bangsa Israel sesaat sebelum Musa mengirim kedua-belas pengintai ke tanah Kanaan (Ulangan 1:21). Perkataan tersebut sama dengan perkataan yang diucapkan Musa kepada Yosua 40 tahun setelah masa itu ketika Musa menyerahkan kendali kepemimpinan kepada anak muda yang mengikuti pengalaman perjalanan Israel mengarungi padang pasar ini (Ulangan 31:8). Sekarang Tuhan mengingatkan kembali. Dosa Akhan (arti nama: masalah), betapa seriusnya, juga setelah kekalahan yang memalukan yang dialaminya, tidak membuat Tuhan meninggalkan Israel. Begitu pula dengan ketidakdewasaan Yosua, tidak membuat Tuhan memecat Yosua sebagai seorang pemimpin pilihan-Nya yang dipakai untuk memimpin bangsa Israel.

Perhatikan ayat 2. Bahkan Tuhan meyakinkan Yosua bahwa mereka akan mampu menawan kota Ai sama seperti mereka menawan kota Yerikho walaupun dengan strategi yang berbeda. Menariknya, sekarang mereka diperbolehkan merampas barang-barang dari kota Ai. Renungkan... sungguh ironis yang dialami Akhan dan keluarganya (Yosua 7:24-25). Andaikan saja Akhan bisa mengontrol dirinya dan tidak egois serta serakah, dia akan ikut diperbolehkan mengambil semua yang diinginkannya dan yang dibutuhkannya dari kota Ai. Tetapi Akhan melanggar hukum Tuhan dan mati bersama seluruh keluarganya.

Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara dengan sengaja hidup di luar kehendak Tuhan? Dan jika sesuatu yang buruk terjadi, Saudara takut dan tawar hati; bahkan meninggalkan Tuhan karena mengira Dia telah membiarkan Saudara sendiri? Tuhan berkata, "Janganlah takut dan janganlah tawar hati."  Tidak peduli seberapa parah Saudara telah gagal, Saudara selalu dapat bangkit dan memulai kembali, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang menepati janji-Nya, dan kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23). Bertobat dan percayalah. Tuhan menyertai Saudara untuk pekerjaan dan kemenangan selanjutnya yang sudah disediakan-Nya.

"Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Dan saat Yesus Kristus memberikan Amanat Agung-Nya kepada para murid-Nya, Dia berjanji, "Dan ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Beritakan. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd040221)

Wednesday, 3 February 2021

 [Yosua 7:16-26]
Rabu, 3 Februari 2021
"Ketika seorang pendosa yang ditemukan"
Bacaan: Yosua 7:16-26

Saudara membaca kisah sebelumnya, bangsa Israel menanggung aib yang memalukan karena dikalahkan oleh orang-orang Ai yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kota Yerikho. Hal ini terjadi karena adanya dosa, pelanggaran yang serius terhadap perintah Tuhan. Tidak ada yang bisa bersembunyi dari Tuhan. Dan Tuhan turun tangan, seorang pendosa ditemukan dan hukuman dijatuhkan.

Penyelidikan (ayat 16-18). Renungkan, mengapa Tuhan menggunakan metode penyelidikan ini? Mengapa Dia tidak langsung menunjuk Akhan yang berdosa dan orang lain yang ikut terlibat? Yosua memanggil tiap bagian dan tiap suku, kaum dan keluarga hingga pribadi, dan ditemukanlah Akhan. Bagaimana ketakutan setiap keluarga dan pribadi mengikuti penyelidikan tersebut? Bagaimana akhirnya semua bangsa Israel mengerti keseriusan dosa di antara mereka? Pasti sangat menakutkan juga bagi Akhan dan keluarga dekatnya untuk melihat jari Tuhan yang menuduh itu menunjuk lebih dekat dan lebih dekat. Apakah Akhan dan keluarganya segera mengakui dosa mereka pada kesempatan pertama?

"Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya" (Yeremia 17:9-10). "Sekalipun mereka bersembunyi di puncak gunung Karmel, Aku akan mengusut dan mengambil mereka dari sana; sekalipun mereka menyembunyikan diri terhadap mata-Ku di dasar laut, Aku akan memerintahkan ular untuk memagut mereka di sana" (Amos 9:3). Tidak ada yang bisa bersembunyi dari Tuhan. Perhatikan, dalam kasus Akhan, tampak bahwa Tuhan telah memberinya kesempatan – sama seperti  yang dilakukan-Nya terhadap penduduk Yerikho. Tetapi Akhan bersembunyi!

Ketika Yosua memilih Akhan sebagai pelakunya, orang-orang yang menonton pasti bertanya pada diri mereka sendiri, "Hal jahat apa yang dia lakukan sehingga Tuhan begitu tidak senang dengan kita?"  Mungkin kerabat dari tiga puluh enam tentara yang terbunuh itu marah ketika mereka melihat pria yang ketidaktaatannya menyebabkan kematian orang yang mereka cintai.

Pengakuan (ayat 19-23). Perhatikan, apakah Yosua langsung menyebut Akhan "pencuri, pemberontak, pengkhiatan, kamu bodoh"Frasa hormatilah Tuhan”  adalah salah satu bentuk sumpah resmi di Israel (Yohanes 9:24 NIV). Akhan tidak hanya berdosa terhadap bangsanya sendiri, tetapi juga dia telah sangat berdosa terhadap Tuhan, dan dia harus mengakui dosanya kepada-Nya. Pengakuan dosa adalah pengakuan kemuliaan Tuhan.

Penghakiman (ayat 24–26). Karena hukum di Israel melarang anggota keluarga yang tidak bersalah dihukum karena dosa kerabat mereka (Ulangan 24:16), keluarga Akhan pasti bersalah karena membantunya dalam dosanya. Tragis! Akhan dan seluruh keluarganya dengan segala yang ia miliki, termasuk barang yang telah dicurinya, dihancurkan seluruhnya dan dibakar. Akhan telah berpaling dari Tuhan yang benar, ditemukan di antara kutukan yang telah dijatuhkan Tuhan terhadap orang-orang Yerikho; dia perlakukan seperti Yerikho yang dimusnahkan.

Perhatikan ayat 26. Bukan saja tentang kebaikan Tuhan, mereka pun mengingat penghukuman Tuhan dengan mendirikan suatu timbunan batu yang besar. Tumpukan batu di lembah itu akan menjadi pengingat bahwa Tuhan mengharapkan umat-Nya untuk menaati Firman-Nya, dan jika tidak, Dia harus menghakimi mereka. Tumpukan batu di Gilgal (Yosua 4: 1–8) mengingatkan mereka bahwa Allah menaati Firman-Nya dan memimpin umat-Nya yang patuh ke tempat berkat. Kedua tugu peringatan itu dibutuhkan dalam perjalanan iman. Tuhan itu kasih (1 Yohanes 4: 8, 16) dan rindu untuk memberkati umat-Nya, tetapi Tuhan juga terang (1 Yohanes 1: 5) dan harus menghakimi dosa umat-Nya.

Sudah dua hari yang sulit bagi Yosua dan para pemimpinnya, tetapi situasinya akan berubah. Tuhan akan memimpin tentara dan memimpin umat-Nya menuju kemenangan. Betapa indahnya Tuhan mengambil Akhor, tempat kesedihan dan kekalahan, dan menjadikannya tempat pengharapan dan kegembiraan. Lembah Akhor disebutkan dalam Yesaya 65:10 dan Hosea 2:15 sebagai tempat di mana orang-orang Israel suatu hari akan memiliki awal yang baru dan tidak lagi dikaitkan dengan rasa malu dan kekalahan.

Ketika Saudara berserah diri kepada Tuhan, tidak ada kekalahan yang permanen dan tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Bahkan "Lembah Masalah" bisa menjadi "pintu harapan". Bertobatlah… Tuhan Yesus Kristus mengasihi Saudara. (erd030221)

Tuesday, 2 February 2021

[Yosua 7:6-15] 
Selasa, 2 Februari 2021

"Seorang pemimpin yang putus asa"
Bacaan: Yosua 7:6-15

Apakah saat memasuki tahun 2021 ini, Saudara meras putus asa karena beberapa rencana terbaik Saudara pernah hancur berkeping-keping? Saudara tidak sendirian. Perhatikan apa yang dialami oleh Yosua dan para perwiranya.

Pemimpin yang sebelumnya telah diagungkan – oleh Tuhan sendiri (Yosua 6:27), sekarang menanggung kekalahan yang memalukan. Mereka menanggung aib karena dikalahkan oleh orang-orang Ai yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kota Yerikho yang sebelumnya mereka kalahkan.

Penyesalan (ayat 6). Sebelumnya, hati orang Kanaan meleleh ketika mereka mendengar tentang penaklukan Israel (2:11). Tetapi sekarang apa yang terjadi dengan Yosua dan bangsa Israel sendiri setelah dikalahkan orang-orang Ai? Apa yang mereka lakukan? Yosua sujud dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut Tuhan hingga petang. Tabut perjanjian adalah pengingat kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya; jelas kelihatan dalam peristiwa penyeberangan sungai Yordan dan mengelilingi tembok Yerikho (Yosua 3:11; 6:6-8). Tetapi sekarang, dengan masuknya dosa di perkemahan mereka dan tanpa kehadiran Tuhan, tabut perjanjian hanyalah perabot kayu, dan tidak ada jaminan kemenangan hanya karena kehadiran tabut tersebut (1 Samuel 4). Jika Yosua merendahkan dirinya sebelum pertempuran, situasinya akan berbeda setelah pertempuran.

Menyalahkan (ayat 7–9). Dalam doanya, Yosua terdengar seperti orang-orang Israel yang tidak percaya setiap kali mereka menemukan diri mereka dalam situasi sulit yang menuntut iman; ketika di Laut Merah (Keluaran 14:11), ketika mereka lapar dan haus di padang gurun (16: 3; 17: 3), dan ketika mereka didisiplinkan di Kadesh Barnea (Bil. 14: 1–3 ). Yosua tampaknya menyalahkan Tuhan atas kehadiran Israel di Kanaan dan atas kekalahan memalukan yang baru saja mereka alami. Bukankah Tuhan telah berjanji akan memberikan tanah Kanaan kepada merera? Anak-anak Israel baru saja disunat? Mereka baru saja merayakan Paskah, mendirikan batu-batu peringatan, dan bahkan merobohkan tembok Yeriko? Hanya ada sebuah garis tipis antara perasaan sukses dengan perasaan gagal.

Pertobatan (ayat 8–9). Sekarang Yosua sampai ke inti permasalahan: kekalahan Israel telah merampas kemuliaan Tuhan, dan untuk ini mereka harus bertobat. ”Dan apakah yang akan Kaulakuan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?” Perhatian Yosua bukan pada reputasinya sendiri tetapi untuk “nama besar”  TUHAN. Yosua telah mempelajari pelajaran ini dari Musa (Kel. 32: 11–13; Bil. 14: 13–16). Bagaimana dengan Saudara ketika pergumulan dan kekalahan terjadi dalam hidup Saudara?

Teguran (ayat 10–15). Setelah pertobatan, Tuhan memberikan jawaban dan petunjuk yang tepat sasaran. Tuhan mengizinkan Yosua dan para pemimpinnya untuk tetap diam sampai waktu pengorbanan malam. Dia memberi mereka waktu untuk sampai ke akhir dari diri mereka sendiri sehingga mereka akan mematuhi arahan-Nya, dan kemudian Dia berbicara kepada Yosua. Ada waktu untuk berdoa dan ada waktu untuk bertindak, dan sekarang tibalah waktunya untuk bertindak.

Perhatikan ayat 11-12Tuhan memberi tahu Yosua bahwa bangsa itu telah mencuri apa yang menjadi milik-Nya, berbohong dan menyembunyikan di antara milik mereka sendiri seolah-olah itu milik mereka. Orang Israel telah berbuat dosa. Kata Dosa berarti "meleset dari sasaran". Tuhan ingin umat-Nya menjadi kudus dan taat, tetapi mereka meleset dari sasaran dan tidak memenuhi standar Tuhan. Itu juga merupakan pelanggaran, yang berarti “menyeberang”. Tuhan telah menarik garis dan mengatakan kepada mereka untuk tidak melewatinya, tetapi mereka telah melanggar perjanjian-Nya dan melewati garis itu. Acaman murka Tuhan sangat serius, ”Aku tidak akan menyertai kamu lagi..” (ayat 12). Dan siapa yang berdosa akan dibakar dengan api bersama dengan segala sesuatu yang ada padanya, bahkan keluarganya (ayat 15).

Perhatikan ayat 13-15Bangsa itu telah dikuduskan dalam persiapan untuk menyeberangi sungai Yordan (3: 5), tetapi sekarang mereka harus dikuduskan untuk mengalami kemenangan. Mereka harus menampilkan diri mereka kepada Tuhan agar Dia bisa mengungkap orang yang telah bersalah (Yosua 7:1). Mereka tidak akan pernah bisa mengklaim warisan mereka selama ada satu orang berpegang teguh pada harta terlarangnya. Malam itu Yosua mengirim kabar ke seluruh perkemahan bahwa orang-orang harus menyucikan diri dan mempersiapkan kebaktian yang akan diadakan keesokan harinya. Saudara bertanya-tanya apakah Akhan dan keluarganya bisa tidur malam itu, atau apakah mereka merasa aman?

Yosua hanyalah manusia biasa, dia bisa jatuh. Apakah Saudara mengalami seperti Yosua? Tuhan terkadang mengizinkan Saudara mengalami kekalahan yang memalukan untuk menguji iman Saudara dan mengungkapkan kepada Saudara apa yang sebenarnya terjadi di hati Saudara. Jangan putus asa. Bertobatlah dan nikmati kemenangan yang disediakan Tuhan dalam perjalanan hidup selanjutnya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd020221)

 

Monday, 1 February 2021

(Yosua 7:5-2) 
Senin, 01 Februari 2021

"Kepercayaan kepada Tuhan, bukan kepercayaan diri"

Bacaan: Yosua 7:5-2

Vaksin Covid-19 yang sudah ditemukan dari berbagai riset di berbagai negara sudah mulai digunakan. Penemuan-penemuan lain juga terjadi, mulai dari metode perawatan pasien, pencegahan hingga peralatan-peralatan penunjangnya. Hal ini menjadi harapan akan berhentinya pandemi. Namun demikian, hanya percaya pada kemampuan manusia tanpa Allah, semua usaha bisa gagal.

Kitab Yosua pasal 7 menceritakan kekalahan bangsa Israel dari orang-orang Ai, kota yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kota Yerikho yang sebelumnya mereka runtuhkan, jarah dan musnahkan. Kekalahan yang menjadi aib bagi bangsa Israel diantara kemenangan-kemenangan mereka. Bahkan mereka pun harus mendirikan batu peringatan dari timbunan batu yang besar atas peristiwa ini (Yosua 7:26). Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Perhatikan Yosua 7:2-5. Yang terjadi adalah Yosua mengirim para pengintai, pengintai kembali pulang dengan keyakinan menang perang, kemudian berangkatlah 3.000 orang berperang. Dan yang terjadi… mereka dikejar dan dikalahkan musuh, 36 orang terbunuh, dan tawarlah hati bangsa Israel amat sangat. Rancangan Yosua, pemimpin yang berpengalaman tersebut akhirnya gagal. Dalam peristiwa tersebut tidak diceritakan bagaimana mereka mempersiapkan diri di hadapan Tuhan, tetapi bagaimana kepercayaan mereka yang akan menang dengan kekuatan yang mereka miliki.

Ai berada di daerah perbukitan, sekitar 24 Km dari Yerikho; dan letaknya 518 meter di atas permukaan laut. Mata-mata itu tidak mengatakan apa-apa tentang Tuhan; seluruh laporan mereka berfokus pada tentara dan keyakinan mereka bahwa Israel akan menang. Mereka yakin bahwa seluruh pasukan tidak diperlukan untuk penyerangan. Tetapi bukannya mencari pikiran Tuhan, Yosua menerima nasihat mata-matanya, dan ini menyebabkan kekalahan. Strategi Tuhan sendiri adalah ketika Dia memberikan perintah untuk serangan kedua terhadap Ai (Yosua 8: 1).

Perhatikan ayat 1, bahkan adanya masalah rohani yang sangat serius di hadapan Tuhan (Yosua 7:23-25), sepertinya luput dari perhatian Yosua. Seandainya Yosua mengadakan pertemuan doa, Tuhan bisa memberi tahu dia bahwa ada dosa di kamp, ​​dan Yosua bisa menanganinya. Ini akan menyelamatkan nyawa 36 tentara dan menyelamatkan Israel dari kekalahan yang memalukan.

Musa telah memperingatkan Israel bahwa mereka tidak dapat mengalahkan musuh mereka kecuali bangsa itu taat kepada Tuhan. Jika mereka mengikuti Tuhan dengan iman, satu tentara Yahudi akan mengejar 1.000 musuh, dan dua akan membuat 10.000 melarikan diri (Ulangan 32:30)! Tiga tentara Yahudi bisa saja mengalahkan seluruh kota, jika bangsa itu berkenan kepada Tuhan, perhatikan Yosua 8:25.

Tidak terdengar kata-kata, "Jika Tuhan menghendakinya" (Yakobus 4:13-17) di antara mereka, yang ada adalah bertindak karena percaya pada kemampuan diri sendiri dan akhirnya gagal. Karena pikiran Tuhan bukanlah pikiran Saudara (Yes. 55: 8–9), lebih baik Saudara meluangkan waktu untuk mencari arahan-Nya. “Kesombongan mendahului kehancuran, dan semangat tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18, NIV). Seperti Israel, yang Saudara butuhkan adalah kepercayaan pada Tuhan, bukan kepercayaan diri sendiri. Selamat memulai minggu yang baru di awal bulan kedua tahun 2021 dalam pimpinan Tuhan. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd010221)

[Yosua 5:1-9]
Minggu, 24 Januari 2021

"Dia ingin Saudara mengingat-Nya karena kasih-Nya"

Bacaan: Yosua 5:1-9

Hari Minggu ini, ketika Saudara mengingat Baptisan dan Perjamuan Kudus, serta kabangkitan Kristus, hal penting apa yang Saudara ingat? Pada abad pertama, ketika banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus, mereka memberi diri untuk dibaptis. Dan ini adalah pengenapan rencana Allah, karena Yesus telah memerintahkan para pengikut-Nya demikian, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Malam sebelum kematian-Nya di kayu salib, saat memecah-mecahkan roti dan meminum cawan bersama-sama dengan para murid-Nya, Yesus berkata "Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (Lukas 22:19). Dan Paulus menekankan "Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang" (1Korintus 11:26).

Baptisan dan Perjamuan Kudus memang bukan jalan keselamatan, tetapi tanda peringatan yang melambangkan kematian dan kebangkitan Kristus bagi setiap pribadi dan bagi seluruh dosa umat manusia. Tuhan ingin Saudara mengingatnya karena kasih-Nya. Banyak orang yang seringkali melupakan-Nya.

Perhatikan. Setelah generasi baru mengalami mujizat menyeberang sungai Yordan dan memasuki Kanaan, Allah memerintahkan Yosua untuk memastikan bahwa semua bangsa Israel telah disunat (Yosua 5:2). "Sebab, semua orang yang keluar dari Mesir itu telah bersunat, tetapi semua orang yang lahir di padang gurun dalam perjalanan sejak keluar dari Mesir, belum disunat" (Yosua 5:4-5). Jauh hari sebelumnya, sunat adalah suatu upacara yang ditentukan oleh Allah ketika Allah pertama kali memanggil Abraham, janji memasuki Kanaan, keturunan dan berkat. Allah memakai upacara sunat sebagai perjanjian dengan Abraham (Kejadian 12:1-3; 17:9-14). Jadi, melalui peristiwa sunat ini, bagaimana Saudara melihat kesetiaan Allah akan janji-Nya? Bagaimana Allah menginginkan Sadara untuk mengingatkannya? Bagaimana hal ini menghiburkan Saudara yang sering kali melupakan janji-janji-Nya?

Perhatikan. Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang. (Yosua 5:9). Bangsa Mesir telah mengejek bangsa Israel dengan mengatakan bahwa tujuan Allah membawa mereka keluar dari tanah Mesir hanya untuk membunuh mereka di gunung (Keluaran 32:12). Sekarang, cela yang memalukan tersebut telah dicabut Allah. Nama Gilgal bisa berarti "saya mencabut, menggulingkan". Mereka adalah umat pilihan Allah dan tidak mungkin bagi-Nya untuk mengingkari janji-Nya sendiri kepada Abraham.

Sebab dalam Kristus-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati" (Kolose 2:9-12). Melalui Kristus, Saudara sekarang dapat masuk ke dalam hadirat Allah, karena telah disunat secara rohani. Nampakkanlah sifat dan kasih-Nya sehingga setiap orang tahu bahwa Saudara adalah anak Allah.

Selamat menikmati Minggu, mengingat kebangkitan Kristus mengalahkan maut, janji setia-Nya menyelamatkan dan menyertai Saudara. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd210121)

[Yosua 5:10-12]
Senin, 25 Januari 2021

"Pemeliharaan Tuhan yang umum dalam hidup setiap hari"

Bacaan: Yosua 5:10-12

Pernahkah Saudara melihat dan mendengar anak kecil berdoa kepada Tuhan meminta mujizat terjadi? Sesuatu yang tidak mungkin terjadi secara manusiawi kecuali mujizat Tuhan yang terjadi? Bukankah Tuhan yang Mahakuasa bisa dalam sekejap menyembuhkan mereka yang terinfeksi Covid-19, bahkan memusnahkan Covid-19 dari muka bumi?

Perhatikan kisah perjalanan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Sebelumnya, mujizat melawan hukum alam telah dikerjakan Tuhan saat bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan. Mujizat-mujizat lainnya telah Tuhan kerjakan dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan sepanjang perjalanan 40 tahun di padang gurun.

Perhatikan Yosua 5:10. Dan sekarang, mereka sampai di Gilgal dan merayakan Paskah, berketepatan dengan 40 tahun setelah mereka keluar dari Mesir. Ingat, kapan bangsa Israel keluar dari Mesir?... pada saat hari Paskah. Lihat, hal luar biasa yang dikerjakan Allah dan bangsa Israel mengingatnya.

Perhatikan Yosua 5:11-12. Tetapi lihat juga, bagaimana pemeliharaan Tuhan diperlihatkan saat itu setelah mereka ada di tanah Kanaan. "Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu" (Yosua 5:12). Setelah mereka makan hasil tanah Kanaan, baru keesokan paginya manna berhenti. Padahal... Tuhan tahu bahwa hari ini bangsa Israel makan dari hasil negeri ini dan manna tidak usah diberikan lagi. Bayangkan, bagaimana panikya bangsa Israel ketika mendadak paginya tidak ada manna lagi, ketika mereka belum memakan hasil tanah Kanaan?

Renungkan. Bukankah seharusnya mereka tidak perlu kuatir karena mereka telah masuk tanah Kanaan? Tanah Kanaan yang sangat subur pasti cukup untuk mereka. Tetapi Tuhan tahu bangsa Israel akan kuatir... jadi mereka tetap mendapatkan manna. Hari sesudah mereka memakan hasil tanah Kanaan, baru keesokan paginya manna berhenti. Bukankah ini menunjukkan bahwa betapa Allah sangat mengerti sekali kekuatiran bangsa Israel?

"Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan" (ayat 12). Perhatikan. Hal ini juga menunjukkan bahwa Tuhan kalau bisa melakukan hal secara umum, tidak akan melakukan mujizat yang melawan hukum alam. Mujizat melawan hukum alam jarang dilakukan Tuhan. Kalau memang bisa secara normal maka Tuhan memilih cara yang normal. Apakah Saudara selalu meminta-minta mujizat-mujizat yang melawan hukum alam, karena Tuhan mampu melakukannya? Ketika Saudara sakit, bukankah Saudara pergi berobat walaupun Saudara berdoa Tuhan yang menyembuhkannya? Dan Tuhan bisa menyembuhkan dengan cara yang normal ketika itu merupakan sesuatu hal yang dapat dilakukan. Bangsa Israel dipelihara Tuhan dengan cara yang lebih biasa.

Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Matius 4:4). Firman Tuhan adalah "manna spiritual", yang dengannya Tuhan memelihara umat-Nya di padang gurun kehidupan saat ini. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd250121).

[Yosua 5:13-15]
Selasa, 26 Januari 2021

"Akulah Panglima Balatentara TUHAN"

Bacaan: Yosua 5:13-15

Selama perjalanan padang gurun hingga menyeberangi sungai Yordan, dan semakin dekat dengan Yerikho, Tuhan sering berfirman kepada Yosua tetapi belum menampakkan kemuliaan-Nya kepada Yosua. Sekaranglah Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya, saat setelah pengudusan dan peringatan Paskah serta tantangan yang semakin jelas di depan mata. Mengapa Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya? Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Perhatikan ayat 13. Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?" Bagaimana ayat ini menunjukkan keberanian Yosua sebagai pemimpin? Ingat keberhasilan-keberhasilan yang sudah dialami Yosua!

Namun... Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." (ayat 14). Perhatikan. Jawabannya bukanlah "lawan" ataupun "kawan" bagi Yosua, dia tidak memposisikan diri sederajat dengan Yosua. Tetapi dialah Panglimanya, peperangan adalah miliknya dan dia sendiri yang akan maju berperang. Bagaimana respon Yosua terhadap konfrontasi Tuhan kepadanya? Bagaimana Yosua disadarkan tentang siapa dirinya dihadapan Tuhan dan pekerjaan-Nya?

"Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" Yosua sadar dan langsung sujud menyembah. Sejak awal pelayanannya, Yosua telah diingatkan bahwa pemimpin utama laskar Israel adalah Tuhan sendiri. Dan, pengakuan kepemimpinan Tuhan membawa Yosua taat akan firman-Nya, yang memerintahkan agar Yosua menanggalkan sepatunya. Ingat peristiwa dulu ketika Musa dipanggil, bertemu Tuhan di semak duri yang menyala-nyala tapi tidak terbakar? (Keluaran 3:5). Menjaga diri kudus menjadi dasar untuk senantiasa berkenan kepada Tuhan dan menikmati pimpinan-Nya.

Sangat konkrit Tuhan menyatakan diri menyertai Yosua. Tuhan yang akan berperang. Kesadaran ini membuat Yosua sujud menyembah, menjaga kekudusan hidup dan taat pada firman-Nya. Kita tahu, akhirnya Yosua dan bangsa Israel berhasil masuk tanah Kanaan, seperti yang dijanjikan Tuhan.

Bagaimana dengan Saudara? Ketika menghadapi tantangan kehidupan sebagai orang percaya, bersediakah Saudara percaya bahwa hidup sebenarnya tentang Tuhan dan kemuliaan-Nya menggenapkan rencana keselamatan-Nya? Bersediakah Saudara menyerahkan kendali kepada-Nya, bahwa Tuhan yang menjadi Panglimanya? Ataukah Saudara berjuang dengan mengandalkan kekuatan sendiri, dalam kehidupan dan panggilan dimanapun Tuhan tempatkan saat ini? Bagaimana Saudara menjaga kekudusan hidup, taat pada firman-Nya dan sujud menyembah Dia?

Tuhan menyatakan diri menyertai Saudara. "Akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Yesus Kristus telah mengalahkan maut, Dia-lah Panglima Saudara. Beritakanlah! Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd260121)

Selasa, 31 Desember 2024 "Tahun Baru: Hidup Baru Dengan Ketaatan Kepada-Nya" (Renungan Natal menyambut Tahun Baru 2025) Banyak...