Monday, 13 January 2025



Selasa, 31 Desember 2024

"Tahun Baru: Hidup Baru Dengan Ketaatan Kepada-Nya"
(Renungan Natal menyambut Tahun Baru 2025)

Banyak orang memiliki harapan hidup yang lebih baik memasuki tahun yang baru, tahun 2025. Tetapi bagaimana memulai hidup baru di tengah persoalan hidup yang seolah-olah tiada akhir? Bagaimana suka cita Natal memberikan damai sejahtera dan kekuatan memasuki dan menghidupi tahun yang baru, Tahun 2025?

Yusuf dan Maria yang sudah bertunangan, hampir saja berpisah. Yusuf yang tulus hati, menghadapi kenyataan tunangan yang dicintainya mengandung, sebelum mereka hidup sebagai suami istri (Matius 1:18). Apa yang terjadi dengan Maria? Bagaimana hal ini bisa terjadi pada-nya; apakah dia tidak mencintai Yusuf lagi? Maria menghadapi kenyataan bahwa dia akan mengandung "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34). Bagaimana dia akan menanggung aib dan cela ketika perutnya semakin besar?

Taat pada pemerintah yang berkuasa yang sedang melakukan sensus, Yusuf dan Maria yang sedang hamil harus kembali ke kota asalnya. Jarak 150 Km yang harus ditempuh selama 4-6 hari melewati jalur yang kasar dengan banyak binatang buas dan perampok adalah perjalanan yang berat bagi Maria yang sedang hamil. Hingga akhirnya ketika mereka sampai di Betlehem tibalah waktunya Maria untuk bersalin. Maria melahirkan bayi Yesus lalu membungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di tempat makan hewan, karena tidak ada tempat bagi mereka di penginapan (Lukas 2:6-7).

Para gembala adalah sekelompok orang yang dianggap paling rendah dalam tatatan sosial pada waktu itu. Sementara orang-orang lain dari berbagai daerah pulang ke kota asalnya dan bertemu keluarga mereka di rumah masing-masing dengan gembira, para gembala harus tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam.

Orang-orang Majus dari negeri yang jauh menempuh perjalanan ribuan kilometer, diperkirakan memakan waktu 2-3 tahun hingga tiba di Yerusalem (Matius 2:1-12). Menempuh perjalanan yang membutuhkan biaya dan perbekalan yang banyak serta penuh risiko terjadinya kecelakaan yang mengancam nyawa mereka. Mereka adalah para ilmuwan dari negeri yang jauh dari Israel dan mempertaruhkan reputasinya ketika mencari Raja Yahudi yang baru lahir berdasarkan ramalan astronomi dan nubuat. Mereka tidak mentaati perintah Raja Herodes untuk kembali kepadanya setelah menemukan Yesus dan pulang ke negerinya melalui jalan lain. Risikonya, Raja Herodes marah dan terjadilah pembunuhan semua anak di Betlehem dan sekitarnya, anak-anak yang berumur 2 tahun ke bawah.

Belum genap usia 2 tahun, Yesus menghadapi ancaman pembunuhan dari raja Herodes yang berkuasa saat itu. Dalam ketakutan, Yusuf dan Maria membawa-Nya menyingkir ke wilayah Mesir, menyelamatkan diri pada waktu malam sejauh 8-12 jam perjalanan. Raja Herodes membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, anak-anak yang berumur 2 tahun ke bawah. Yesus dan orangtua-Nya hidup di negeri orang hingga situasi aman dan akhirnya kembali ke tanah Israel (Lukas 2:13-21)

Tetapi, semuanya itu terjadi dalam kendalinya Allah "Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan" (Matius 1:22; 2:15,17,23). Ketaatan orang-orang di sekitar kelahiran Yesus telah dipakai Allah untuk menggenapi rancangan-Nya. Yusuf berbuat seperti yang  diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus (Matius 1:24-25). Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padau menurut perkataanmu (malaikat Gabriel) itu" (Lukas 1:38). Yusuf taat perintah Allah untuk menyingkir ke Mesir "Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir". Ketika waktunya tiba, "Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel" (Matius 2:14,21).

Para Majus mengikuti tuntunan Allah, melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia; mempersembahkan kepada-Nya emas, kemenyan dan mur. Mereka pun taat pada peringatan Allah, supaya tidak kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain (Matius 2:11-12). Para gembala cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi Yesus, yang sedang berbaring di dalam tempat makan hewan. Mereka memberitahukan apa yang telah dikatakatan kepada mereka tentang Anak itu. Mereka kembali sambil memuji dan memuliakan Allah karena kebenaran yang telah mereka lihat (Lukas 2:16-20).

Orang-orang di sekitar kelahiran Yesus menghadapi berbagai pergumulan hidup, bahkan Yesus pun mengalaminya. Tetapi, ketaatan mereka menjadi alat Allah untuk menyatakan kasih-Nya. Yesus, Dialah yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Dia juga disebut "Anak Allah Yang Mahatinggi" (Lukas 1:32). Dia juga disebut "Imanuel" yang berarti: "Allah menyertai kita" (Matius 1:23,25). Percayalah dan taatlah kepada-Nya; menikmati dan menyatakan kasih-Nya di tengah pergumulan hidup yang ada. Selamat menyambut Tahun Baru 2025. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd31122024).

Thursday, 12 December 2024



Kamis, 12 Desember 2024

"Kelahiran Yesus: Kekuatan Kesehatan Mental 
Bagi Orang-orang dengan Masa Lalu yang Kelam".
(Renungan Natal - Injil Matius 1:1-17)

Angka prevalensi gangguan kesehatan mental di Indonesia meningkat. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa penduduk usia 15-24 tahun merupakan kelompok usia dengan prevalensi depresi tertinggi. Survei pada generasi muda Kristen Indonesia (usia 12-26 tahun) yang dilakukan bulan April – Juni 2024 menemukan fakta tiga hal yang paling sering membuat mereka merasa tertekan: 37.5% tertekan soal masa depan, 18.4% merasa "Tuhan meninggalkan aku" dan 14.8% dampak dari kesalahan yang telah dilakukan. Tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024 adalah "Saatnya memprioritaskan kesehatan mental di tempat kerja", masalah kesehatan mental penting bagi semua generasi. Bagaimana kelahiran Yesus Kristus memberikan kekuatan kesehatan mental bagi setiap pribadi yang percaya kepada-Nya? Bacalah Injil Matius 1:1-17!

Sebelum menceritakan kelahiran Yesus Kristus, Injil Matius menulis catatan sejarah ribuan tahun silsilah Yesus Kristus sebagai keturunan Daud, keturunan Abraham. Yesus adalah Raja dan Mesias yang dijanjikan. Tetapi dengan jujur Injil Matius menuliskan bahwa Yesus Kristus lahir dari silsilah keluarga yang tidak sempurna hidupnya; ada sisi gelap di dalamnya. Banyak cerita dalam keluarga Yesus yang semuanya tidak membanggakan. Tetapi semuanya menjadi panggung besar yang menampilkan kasih dan anugerah Allah.

Kasih Allah di dalam hidup manusia tidak dibatasi oleh kegagalan dan dosa manusia. Perhatikan hal yang unik; tertulis nama-nama perempuan di dalam silsilah Yesus Kristus. Dalam budaya Yahudi kuno saat itu, perempuan tidak mendapatkan penerimaan dan penghormatan yang seharusnya, dianggap di bawah laki-laki.  Dalam berbakti di Bait Allah, perempuan tidak boleh bercampur dengan laki-laki. Tetapi Injil Matius mencatat nama-nama perempuan, bahkan perempuan yang tidak ideal; perempuan-perempuan yang layak dikategorikan sebagai pendosa dengan masa lalu yang kelam. Tamar berzinah dengan Yehuda, mertuanya (Kitab Kejadian 38). Rahab adalah seorang pelacur di kota Yerikho (Kitab Yosua 2:1- 24). Rut adalah janda dari Moab yang nyaris kehilangan harapan hidup (Kitab Rut 1-3). Batsyeba adalah isteri Uria yang diajak berzinah oleh Daud (Kitab 2 Samuel 11-12). Walaupun kesalahan tidak sepenuhnya berada di pundak perempuan-perempuan ini, tetapi kehidupan mereka tetap jauh dari ideal. Di mata masyarakat saat itu, pezinah, pelacur dan janda tidak mendapat tempat terhormat. Jika seseorang boleh memilih nenek moyangnya sendiri, dia pasti akan memilih nama-nama lain yang jauh dari kesan negatif.

Bahkan Abraham dan Daud pun tercatat melakukan dosa dalam hidupnya. Daud begitu keji berzinah dengan Batsyeba dan membunuh suaminya. Karena sering menumpahkan darah di masa perang, Daud tidak diijinkan Allah untuk membangun Bait Allah. Abraham tidak percaya Tuhan dan berzinah dengan Hagar (budak perempuan Sarah asal Mesir), berbohong tentang istrinya dan mempermalukan mereka. Tetapi Injil Matius menulis nama-nama mereka di dalam silsilah Yesus Kristus, Isa Almasih. Allah menyatakan kasih-Nya kepada mereka yang berdosa dan hidup dalam masa lalu yang kelam.

Allah mengasihi masyarakat yang dianggap rendah oleh masyarakat yang lainnya. Orang-orang Yahudi di jaman Yesus, menganggap diri lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain bahkan menunjukkan sikap yang merendahkan bangsa-bangsa lain. Najis bagi orang Yahudi bergaul dengan orang Samaria (Injil Yohanes 4:9). Tetapi perhatikan catatan Injil Matius, Yesus Kristus ternyata tidak sepenuhnya berasal dari keturunan Israel. Tamar dan Rahab adalah penduduk Kanaan, bangsa penyembah berhala, keji dan najis (Kitab Ulangan 29:17; Kitab Imamat 18:27). Rut orang Moab, bangsa yang sangat angkuh dan menyembah berhala (Kitab Yesaya 16:6; Kitab 1 Raja-raja 11:7). Istri Uria (Batsyeba) orang Het, keturunan bangsa Kanaan (Kitab Kejadian 10:15). Allah menyatakan kasih-Nya bahwa keselamatan adalah untuk segala bangsa.

Tiga tahap kehidupan yang berakhir dalam pemulihan. Injil Matius menggambarkan garis keturunan Yesus (42 keturunan) dalam 3 pembagian (ayat 17). Penafsir Alkitab menemukan seluruh tahap kehidupan kerohanian manusia di dalam 3 pembagian tersebut. Pertama, dari Abraham sampai Daud yang menggambarkan suatu kebesaran. Kedua, dari Daud sampai pembuangan ke Babel: hilangnya kebesaran karena dosa. Ketiga, dari pembuangan ke Babel sampai Kristus: Allah tidak pernah meninggalkan manusia dalam kehancurannya karena dosa. Sekelam apapun kehidupan manusia ada pengharapan pemulihan dalam Yesus Kristus, Isa Almasih.

Kasih Allah mengatasi segala kegagalan dan dosa orang-orang dengan masa lalu yang kelam. Kehidupan manusia yang kelam bisa dipakai Allah menjadi panggung yang besar untuk menampilkan kemuliaan kasih dan anugerah-Nya. Kesehatan mental ada karena Allah yang mengasihi manusia berdosa, bukan bagaimana manusia mengusahakannya. Percayalah kepada Yesus Kristus, Isa Almasih, Juruselamat dunia, sumber kesehatan mental manusia. Selamat menyambut Natal 2024. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd12122024)

Wednesday, 3 July 2024



[­Kisah kurban yang pertama dan yang terakhir]

“Allah mengenakan pakaian kulit binatang kepada Nabi Adam dan Siti Hawa” 
(Kitab Kejadian 3:1-24)*

Kata “kurban” yang artinya dekat, dimaknai sebagai mendekatkan diri kepada Allah dengan pemberian persembahan (penyembelihan binatang) untuk menyatakan kesetiaan atau kebaktian. Menariknya, kisah tentang kurban sebenarnya bukan kisahnya manusia tetapi kisahnya Allah sendiri; bahkan sejak Allah menciptakan manusia. Kisahnya tercatat di Kitab Taurat, Zabur, Kitab Para Nabi dan Injil. Bagaimana kisah kurban yang pertama kali? Bacalah Kitab Kejadian 3:1-24; Nabi Adam dan Siti Hawa jatuh ke dalam dosa; Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan mereka.

Bacalah Kejadian 2:1-25. Pada mulanya setelah Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, Allah menciptakan Nabi Adam dan Siti Hawa. Mereka ditempatkan di taman yang indah seperti taman firdaus. Allah sangat akrab dengan Nabi Adam dan Siti Hawa dan semuanya sempurna di sana. Allah memberikan perintah kepada Nabi Adam dan Siti Hawa untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kalau mereka melanggar perintah Allah, mereka akan dihukum sampai mati. Allah berfirman, “janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17).

Bacalah Kejadian 3:1-13. Celakanya, Hawa tergoda oleh Iblis. Hawa mengambil dan makan buah pohon terlarang itu dan memberikan kepada Adam. Adam juga memakannya. Adam dan Hawa telah melanggar perintah Allah dan berdosa. Mereka langsung merasa telanjang dan malu dan mengambil daun-daun untuk menutupi ketelanjangan mereka. Kemudian Allah datang untuk berbicara dengan mereka, tetapi mereka bersembunyi karena takut. Perhatikan, sebenarnya mereka tidak bisa sembunyi dari Allah!

Bacalah Kejadian 3:14-20. Berapa kalikah Adam dan Hawa melanggar perintah Allah? Hanya satu kali. Mereka makan buah yang dilarang oleh Allah, dan Allah menghukum mereka dengan hukuman yang berat. Hawa akan susah melahirkan anak-anak, dan sempai sekarang semua perempuan susah melahirkan anak-anak. Adam harus bekerja dengan susah payah untuk mecukupi keperluan hidup keluarga, dan sampai sekarang, sejak mereka diusir dari taman Firdaus itu, dan tidak dapat kembali lagi. Akhirnya, sebagai kutuk bagi dosa mereka sendiri, mereka harus mati. Allah tidak merencanakan kematian bagi manusia, melainkan merencanakan hidup. Namun upah dosa ialah maut.

Bagaimanapun juga, Allah masih mengasihi manusia yang Dia ciptakan dan menginginkan agar dosa mereka dapat diampuni. Pada waktu itu Iblis pun dihukum. Allah berjanji akan mengirim penyelamat yang akan menghancurkan kepala si ular yang dengan kelicikannya berhasil menggoda Hawa. Ular akan menghancurkan tumit penyelamat itu. Allah berfirman kepada ular itu, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan  ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Setelah janji tersebut, Allah melakukan sesuatu yang menarik. Allah mengganti pakaian Adam dan Hawa. Pada waktu berbuat dosa, Adam dan Hawa membuat pakaian dari dedaunan, tetapi Allah mengganti pakaian itu dengan kulit binatang. Seekor binatang harus disembelih dan mati. “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kejadian 3:21). 

Perhatikan dengan seksama, ternyata Allah sendiri mempersembahkan kurban binatang yang pertama untuk melunasi hutang dosa manusia. Cara Allah menebus manusia dari dosa adalah melalui pengorbanan darah dari binatang korban. Nenek moyang kita semua seperti Nabi Adam dan Siti Hawa, Kabil dan Habil, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa semua mempersembahkan binatang kurban untuk dosa mereka.

Kitab Taurat, Zabur, Para Nabi dan Injil mengajarkan bahwa ketika ada penumpahan darah, maka ada pengampunan dosa. Allah berjanji akan mengirimkan Penyelamat yang akan menderita, mengorbankan diri-Nya, mengalahkan Iblis dan menghapus dosa manusia. Banyak nabi menubuatkan kedatangan Penyelamat itu selama beratus-ratus tahun.

Pada suatu hari, seorang nabi yang bernama Yahya, melihat Yesus dan berkata begini, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”  (Injil Yahya 1:29). Karena anak domba adalah binatang kurban, Yesus akan menjadi kurban yang sempurna dari Allah sendiri yang menebus manusia dari dosa. Yesus menyerahkan diri-Nya kepada orang-orang jahat. Mereka membunuh Yesus dan darah-Nya tertumpah keluar. Sebelum Yesus mati dia berkata “Sudah selesai.” Artinya sudah lunas! Yesus menundukkan kepala-Nya dan mati (Injil Yahya 19:30.) Tiga hari kemudian Yesus hidup kembali dan menampakkan diri kepada para pengikut-Nya selama 40 hari. Kemudian Yesus terangkat ke surga (Kisah Para Rasul 1:9).

Kitab Suci Injil berkata “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Surat Roma 10:9). Tuhan Yesus Kristus memberkati Saudara. (erd030724)

Saturday, 30 March 2024


 

Jumat Agung, 29 Maret 2024

 "Yesus menggenapi janji-Nya, mati bagi manusia berdosa; mereka yang percaya bertumbuh imannya dan tangguh menanggung risiko".

(Injil Yohanes 3:1-3; 7:50-51; 19:38-42; Matius 27:57-61; Markus 15:42-47; Lukas 23:50-56)

Yesus beberapa kali berkata kepada para murid-Nya bahwa Ia akan menderita, dibunuh, dan pada hari ketiga akan bangkit (Matius 20:18-19; Markus 10:33-34; Lukas 18:31-33). Maka hati murid-murid-Nya pun sedih sekali (Matius 17:23). Akhirnya, Yesus pun disalibkan dan mati di atas salib itu. Bagaimana pemakaman mayat-Nya harus dilakukan dengan cepat, karena hari Sabat sudah hampir tiba dan menurut hukum Yahudi, pada hari itu tidak dapat melakukan pekerjaan apa-apa? Sementara itu, murid-murid-Nya ketakutan. Mereka semua meninggalkan Yesus dan melarikan diri (Markus 14:50). Bahkan karena miskin, mereka pun akan kesulitan memakamkan Yesus dengan layak. Siapa yang berani mengambil risiko berurusan dengan Mahkamah Agama dan penguasa Romawi dalam kasus terpidana mati tersebut? Jadi, bagaimana rencana Allah tergenapi bahwa Yesus mati dan pada hari ketiga akan bangkit dari kubur?

Menurut hukum Romawi, mayat orang yang dihukum mati biasanya diserahkan kepada keluarga, tetapi kalau dihukum mati karena pemberontakan atau penghasutan, mayatnya dibiarkan di salib. Orang-orang Yahudi selalu mengijinkan penguburan segala penjahat, tetapi bukan di dalam kuburan biasa, supaya mayat itu tidak dapat menajiskan kuburan itu. Penjahat biasanya dikuburkan bersama-sama di dalam sebuah kubur umum yang hina. Dalam situasi ini, hal yang menakjubkan terjadi; Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus tampil memakamkan Yesus dengan layak. Siapakah Yusuf dan Nikodemus ini dan bagaimana mereka tangguh menanggung risiko saat itu?

Yusuf dari Arimatea (sebuah kota Yahudi), namanya baru tercatat dalam peristiwa penguburan Yesus. Ia adalah orang kaya (Matius 27:57), seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka (Markus 15:43), seorang yang baik lagi benar (Lukas 23:50). Ternyata murid Yesus juga, walaupun sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi (Yohanes 19:38). Menjelang malam, Yusuf memberanikan diri menghadap Pilatus (seorang Gubernur pemerintah Romawi) dan meminta mayat Yesus untuk dikuburkan (Matius 27:58; Markus 15:43; Lukas 23:52; Yohanes 19:38).

Nikodemus adalah seorang Farisi (golongan para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh), pemimpin Yahudi (Yohanes 3:1-2) dan juga bagian dari imam-imam kepala (Yohanes 7:50). Namanya hanya disebutkan 5 kali dalam 5 ayat di Injil Yohanes, dalam 3 peristiwa. Peristiwa pertama pada saat malam hari, dia datang kepada Yesus dan bercakap-cakap dengan-Nya (Yohanes 3:1-2). Namanya baru disebut lagi pada saat membela Yesus dihadapan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi (Yohanes 7:50-52). Tetapi kemudian pada peristiwa berikutnya, Nikodemus berani tampil memakamkan Yesus yang dianggap penjahat besar dan pemberontak oleh para pemimpin agama Yahudi (Yohanes 19:38-39). Tersirat bahwa pengenalan dan kepercayaan Nikodemus kepada Yesus semakin bertumbuh.

Mahkamah Agama (70 orang anggota) adalah badan keagamaan umat Yahudi yang tertinggi, di bawah pimpinan Imam Besar. Mahkamah ini mempunyai kewibawaan penuh di bidang agama. Merekalah yang memegang peran penting dalam penghakiman dan penyaliban Yesus sebagai terpidana mati (Yohanes 18). Tetapi sekarang, sebagai bagian dari Mahkamah Agama, Yusuf dan Nikodemus memberanikan diri menghadap Pilatus dan menguburkan mayat Yesus terpidana mati yang disalib itu. Yusuf dari Arimatea itu tidak takut lagi menyembunyikan diri sebagai murid Yesus (Yohanes 19:38). Begitu juga dengan Nikodemus, yang selalu disebut "yang dahulu datang waktu malam kepada Yesus" (Yohanes 3:2; 7:50; 19:39). Mereka bisa hancur reputasinya dan menghadapi kesulitan dalam hidupnya karena dianggap bersekutu dengan penjahat besar dan pemberontak. Besar kemungkinan mereka kehilangan profesi dan statusnya itu dan mengalami kesulitan dalam hidup mereka selanjutnya.

Yusuf dan Nikodemus tampil dan menyediakan diri justru pada saat Yesus sudah mati disalibkan dan murid-murid meninggalkan Yesus, situasi yang tidak mudah. Melalui Yusuf dan Nikodemus, dalam pertumbuhan iman dan sumber daya yang mereka miliki, Tuhan memakai mereka untuk menggenapi karya keselamatan-Nya bagi orang berdosa. Semua yang tertulis tentang Yesus dalam kitab Taurat, kitab nabi-nabi dan Mazmur bahwa Mesias harus menderita, disalibkan, mati dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, pasti dan sudah digenapi (Matius 20:19; Lukas 24:44-48).

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Yesus Kristus sudah menggenapi janji-Nya; menderita, mati di salib dan pada pada hari yang ketiga bangkit, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Seperti Yusuf dan Nikodemus, kiranya iman Saudara semakin bertumbuh dan tangguh menanggung risiko memberitakan kematian dan kebangkitan-Nya kepada dunia. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd30032024)

Wednesday, 3 January 2024



Rabu, 3 Januari 2024
 
­"Memasuki Tahun Baru 2024, 
memulai perjalanan iman dan ketaatan kepada Allah".
(Injil Matius 2:1-12)

Perjalanan hidup terus berlangsung, sudah meninggalkan tahun 2023 dan memulai hari-hari di tahun yang baru 2024, tahun kabisat 366 hari. Apakah semuanya akan berjalan dengan baik? Bagaimana dengan kehidupan keluarga, dunia kerja, ekonomi dan politik (nasional dan global) serta ancaman bencana alam ke depannya? Bagaimana bisa menjalaninya dengan keteguhan hati? Renungkanlah perjalanan orang-orang Majus dari Babilonia ke Yerusalem menemukan Yesus. Bacalah Injil Matius 2:1-12.

Ayat 1-2. Orang-orang Majus di Babilonia telah melihat bintang yang ditunjukkan Allah sebagai tanda bahwa Yesus telah lahir. Kemudian mereka menempuh perjalanan dari negerinya yang jauh, selama lebih dari 1 tahun hingga akhirnya bertemu dengan Yesus di sebuah rumah di Betlehem. Yesus bukan lagi seorang bayi mungil yang terbungkus dengan kain lampin, usia-Nya sudah lebih dari satu tahun. Yusuf dan Maria pun sudah berpindah dari kandang binatang ke rumah biasa (lihat Matius 2:16).

Perjalanan iman. Bagaimana orang-orang Majus menempuh perjalanan yang jauh sampai lebih dari 1 tahun? Mereka adalah orang-orang bijaksana, ahli dalam berbagai ilmu, kelompok bangsawan dan bangsa non-Yahudi. Namun, mereka bersedia meninggalkan negerinya menuju Yerusalem untuk menemukan dan menyembah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mereka bersiap menempuh perjalanan yang tidak nyaman di atas unta dengan berbagai risikonya. Entah bagaimana tanggapan teman-teman mereka dan masyarakat atas tindakan mereka tersebut. Cuaca padang gurun sangat panas dan kadang-kadang cukup dingin bahkan terjadi badai. Ada banyak pencuri dan bandit di sekitar perjalanan yang bisa merampok harta benda mereka bahkan membunuhnya. Ingat, mereka membawa harta benda yang berharga seperti emas, kemenyan dan mur. Mereka menempuh perjalanan yang penuh risiko, tidak dapat mengetahui dengan pasti perjalanan di depan yang akan dilaluinya.

Namun, orang-orang Majus itu melangkahkan kakinya dengan percaya. Mereka hanya menduga dari keahlian astronomi mereka bahwa bintang yang mereka lihat adalah tanda ilahi yang mengumumkan kelahiran Yesus. Mereka hanya mengetahui sedikit dari tradisi agama Yahudi yang dikenal mereka di Babilonia. Tetapi bukan sekedar tahu, melalui "sarana" yang tidak memadai itu mereka percaya dan melangkahkan kakinya. Mereka bersedia mengorbankan kenyamanan, keamanan dan harta bendanya; melangkah dengan iman dan menemukan Yesus. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Sebaliknya, semua Imam Kepala dan Ahli Taurat bangsa Yahudi yang sudah tahu dari kitab-kitab yang mereka pelajari, tetapi mereka tidak segera bertindak menemukan Yesus.

Perhatikan ayat 11. Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya tiba (mungkin ketika Yesus berusia sekitar 2 tahun). Tindakan mereka sangat sederhana, menunjukkan kerendahan hati dan iman yang besar. Orang-orang hebat ini yang penuh dengan kebijaksanaan dan pengetahuan bersujud di tanah di hadapan Seorang anak kecil. Sangat sedikit orang yang mengerti siapa Anak ini, dan apa yang akan Dia lakukan, tetapi sepertinya setidaknya sebagian orang Majus mengerti. Iman mereka memimpin mereka dalam perjalanan panjang dan begitu mereka tiba yang bisa mereka lakukan adalah sujud dalam ibadah yang mereka nyatakan dengan mempersembahkan emas, kemenyan dan mur kepada yang mereka Agungkan, Yesus Kristus Mesias. Perjalanan mereka adalah perjalanan ibadah, dengan rendah hati dan beriman; berkorban baik waktu dan harta bahkan hidup mereka. Bacalah surat Roma 12:1.

Ayat 12. Ini adalah perintah langsung dari Allah yang tercatat di awal Injil Matius. Orang-orang Majus bisa membuat banyak alasan untuk tidak patuh dan menghindari jalan memutar yang membuang waktu. Dan tampaknya, tidak akan menjadi masalah untuk memberitahukan tentang Anak itu kepada Raja Herodes. Namun, perintah Allah yang tampaknya sederhana (dalam mimpi) mereka taati dengan tindakan sederhana (tanpa banyak penolakan). Ketaatan mereka memberi Yusuf dan keluarganya waktu untuk melarikan diri sebelum Raja Herodes membunuh semua bayi di kota itu. Perjalanan mereka adalah perjalanan ketaatan.

Saudara, melanjutkan perjalanan hidup di tahun 2024 ini, bersediakah Saudara menjalaninya dengan sukacita yang sangat besar seperti perjalanan orang-orang Majus (ayat 10)? Menjalaninya sebagai perjalanan iman, ibadah dan ketaatan yang memuliakan Allah. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd03012024).

Friday, 22 December 2023



Jumat, 22 Desember 2023

"Natal: Allah mengasihi Keluarga dengan masa lalu yang kelam".
(Renungan Natal - Injil Matius 1:1-17)

Apakah Saudara melihat ada keluarga yang memiliki aib, kisah pilu dan masa lalu yang kelam? Apakah mereka tenggelam dalam penyesalan dan kehinaan? Bagaimana berita Natal tahun 2023 menolong mereka menemukan kedamaian dan memasuki tahun baru 2024 sebagai pribadi yang lebih utuh? Injil Matius dengan jujur menuliskan bahwa Yesus Kristus tidak lahir dari keluarga yang sempurna tanpa pergumulan; ada sisi gelap di dalamnya. Banyak cerita dalam keluarga Yesus yang semuanya tidak membanggakan. Tetapi semuanya menjadi penggung besar yang menampilkan kemurahan dan anugerah Allah. Bacalah Injil Matius 1:1-17.

Kasih Allah di dalam hidup manusia tidak dibatasi oleh kegagalan dan dosa manusia. Perhatikan hal yang unik dalam catatan Injil Matius; tertulis nama-nama perempuan di dalam silsilah Yesus Kristus. Dalam budaya Yahudi kuno saat itu, perempuan tidak mendapatkan penerimaan dan penghormatan yang seharusnya. Mereka dianggap di bawah laki-laki. Tetapi Injil Matius mencatat nama-nama perempuan, bahkan perempuan yang tidak ideal; perempuan-perempuan yang layak dikategorikan sebagai pendosa dengan masa lalu yang kelam. Tamar berzinah dengan Yehuda, mertuanya (Kitab Kejadian 38). Rahab adalah seorang pelacur di kota Yerikho (Kitab Yosua 2:1- 24). Rut adalah janda dari Moab yang nyaris kehilangan harapan hidup (Kitab Rut 1-3). Batsyeba adalah isteri Uria yang diajak berzinah oleh Daud (Kitab 2 Samuel 11-12). Walaupun kesalahan tidak sepenuhnya berada di pundak perempuan-perempuan ini, tetapi kehidupan mereka tetap jauh dari ideal. Jika seseorang boleh memilih nenek moyangnya sendiri, dia pasti akan memilih nama-nama lain yang jauh dari kesan negatif. Di mata masyarakat saat itu, pezinah, pelacur dan janda tidak mendapat tempat terhormat. Tetapi Injil Matius menulis nama-nama mereka di dalam silsilah Yesus Kristus, Isa Almasih. Allah menyatakan kasih-Nya kepada mereka yang berdosa dan hidup dalam masa lalu yang kelam.

Allah mengasihi masyarakat yang dianggap rendah oleh masyarakat yang lainnya. Orang-orang Yahudi saat itu sangat membanggakan bangsa mereka. Kemurnian sebagai orang Yahudi sangat dikedepankan. Mereka menganggap diri lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain bahkan menunjukkan sikap yang merendahkan bangsa-bangsa lain. Misalnya saat itu di jaman Yesus, keluarga-keluarga Yahudi merendahkan keluarga-keluarga Samaria. Orang-orang Samaria dianggap tidak murni lagi sebagai bangsa Yahudi sebab di antara mereka telah terjadi kawin campur dengan bangsa lain. Najis bagi orang Yahudi bergaul dengan orang Samaria (Injil Yohanes 4:9). Tetapi perhatikan catatan Injil Matius, Yesus Kristus ternyata tidak sepenuhnya berasal dari keturunan Israel. Beberapa nama perempuan yang disebutkan dalam silsilah ini sangat mungkin bukan orang Israel. Tamar dan Rahab adalah penduduk Kanaan, bangsa penyembah berhala, keji dan najis (Kitab Ulangan 29:17; Kitab Imamat 18:27). Rut orang Moab, bangsa yang sangat angkuh dan menyembah berhala (Kitab Yesaya 16:6; Kitab 1 Raja-raja 11:7). Istri Uria (Batsyeba) orang Het, keturunan bangsa Kanaan (Kitab Kejadian 10:15). Allah menyatakan kasih-Nya bahwa keselamatan adalah untuk segala bangsa.

Tiga tahap kehidupan yang berakhir dalam pemulihan. "Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus" (ayat 17). Injil Matius menggambarkan garis keturunan Yesus (42 keturunan) dalam 3 pembagian. Penafsir Alkitab menemukan seluruh tahap kehidupan kerohanian manusia di dalam 3 pembagian tersebut. Pertama, dari Abraham sampai Daud yang menggambarkan suatu kebesaran. Kedua, dari Daud sampai pembuangan ke Babel: hilangnya kebesaran karena dosa. Ketiga, dari pembuangan ke Babel sampai Kristus: Allah tidak pernah meninggalkan manusia dalam kehancurannya karena dosa. Natal, Yesus hadir menolong dan menyelamatkan manusia dari dosa yang telah membelenggunya. Sekelam apapun kehidupan manusia ada pengharapan pemulihan dalam Yesus Kristus, Isa Almasih.

Bagaimana dengan Saudara? Adakah di antara Saudara yang berasal dari keluarga yang memiliki aib, kisah pilu dan masa lalu yang kelam? Kasih Allah mengatasi segala kegagalan dan dosa Saudara. Kehidupan manusia yang kelam dipakai Allah menjadi panggung besar yang menampilkan kemurahan, kasih dan anugerah Allah. Siapkan dan relakan diri dan hidup Saudara menjadi alat kemuliaan Allah melalui Yesus Kristus, Isa Almasih yang mengasihi dan menyelamatkan manusia; manusia dari segala masa lalu yang kelam dan manusia dari segala bangsa. Selamat menyambut Natal 2023. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd22122023)

Tuesday, 19 December 2023



Renungan Akhir Tahun – Desember 2023

“Ketangguhan Rohani di Masa Sulit”
(Kisah Maria yang melahirkan Mesias)

Apakah  Saudara sedang berada di masa sulit dalam hidup Saudara saat ini, di akhir tahun 2023? Bagaimana menghadapi setiap tantangan dan hambatan yang ada dengan tangguh, kualitas hidup meningkat dan semakin memuliakan Allah dalam perjalanan hidup selanjutnya? Dalam masa Natal ini, belajarlah dari Maria yang memiliki ketangguhan rohani menghadapai setiap tantangan dan hambatan pada saat melahirkan Yesus, Mesias.

Diperkirakan bahwa Maria masih remaja ketika malaikat menampakkan diri kepadanya dan memberitahukannya bahwa ia akan melahirkan seorang bayi – bukan sekadar bayi biasa, tetapi Anak Allah! Mengandung Mesias bukan berarti bahwa segala sesuatunya akan mudah bagi Maria. Tunangannya, Yusuf, hampir memutuskan pertunangan mereka karena kehamilan Maria merupakan sebuah aib (Matius 1:19), dan perlu malaikat datang untuk meyakinkan Yusuf agar menikahi Maria. Kemudian pemerintah Romawi mengumumkan akan mengadakan sensus, jadi Yusuf dan istrinya yang sedang hamil harus melakukan perjalanan yang tidak nyaman ke Betlehem. Tidak ada kamar di tempat penginapan untuk mereka, sehingga bayi itu diletakkan di dalam sebuah palungan. Pasangan ini terlalu miskin untuk memberikan persembahan korban domba yang mahal di Bait Allah, sehingga mereka mempersembahkan dua ekor burung (Lukas 2:24; lihat Imamat 12:7-8).

Cemoohan, ketidaknyamanan, kesakitan dan kemiskinan itu baru permulaan. Simeon menubuatkan kepada Maria bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:35). Raja Herodes ingin membunuh Yesus, sehingga keluarga ini melarikan diri pada malam hari ke Mesir; sebagai pengungsi yang tidak memiliki tempat tinggal (Matius 2:14). Setelah kematian Herodes, mereka sekali lagi dicabut dari akarnya dan pindah kembali ke Nazaret (Matius 2:21-23).

Semua ini terjadi hanya dalam beberapa tahun dan Maria pasti tangguh karena dapat tetap bertahan setelah melewati semuanya. Ketangguhannya diuji sampai batas, ketika ia berdiri dekat salib menyaksikan putra sulungnya meninggal (Yohanes 19:25). Yesus meminta murid-Nya Yohanes untuk menjaga Maria; jadi kita dapat beranggapan bahwa pada waktu itu ia adalah seorang janda (Yohanes 19:26-27). Maria tidak menyerah atau bersembunyi karena takut dengan apa yang mungkin akan terjadi padanya. Di kitab Kisah Para Rasul, setelah kematian dan kebangkitan Yesus, kita membaca bahwa Maria terus tekun berdoa bersama murid-murid yang tersisa (Kisah Para Rasul 1:14).

Kehidupan doa dan imannya tampaknya adalah kunci dari ketangguhannya. Maria tahu bahwa panggilannya adalah melahirkan Mesias. Ia menerimanya dengan ketaatan dan iman, katanya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” (Lukas 1:38). Ketika ia mengunjungi sanak saudaranya Elisabet, Maria menyanyikan sebuah pujian yang menggemakan pujian Hana ketika ia juga mendapatkan seorang putra:


     Jiwaku memuliakan Tuhan,
           dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku…
          dan nama-Nya adalah kudus.
     Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia…
          Ia mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
     Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya
          dan meninggikan orang-orang yang rendah;
     Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
          dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.
                                                                                      (Lukas 1:46-53)

Sebelum Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama, dalam perka-winan di Kana, Maria menunjukkan pengharapan dan keyakinannya bahwa Ia dapat membuat mujizat. Maria berkata kepada pelayan-pelayan, “Lakukan apa saja yang dikatakan-Nya kepadamu” (Yohanes 2:5 versi FAYH). Ketika mereka melakukannya, mujizat terjadi dan air berubah menjadi anggur.

Maria menunjukkan karakteristik utama ketangguhan rohani: keyakinan akan pengharapan, panggilan dan makna; rasa syukur dan pujian; percaya, beriman; dan bergantung pada belas kasihan dan pengampunan Allah. Ia hidup dalam ketaatan kepada Allah, dan ia berdoa. Ia mengambil waktu untuk berdiam diri dan merenungkan di dalam hatinya, memikirkan apa yang Allah kerjakan; “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Lukas 2:19); “Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Lukas 2:51).

Mungkin Maria dipilih untuk melahirkan Mesias karena ia sangat berbakti dan berserah kepada Allah dan penuh iman. Ketangguhan rohani, ketaatan dan iman menolong Saudara menghadapi setiap tantangan dan hambatan. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd151223)

Selasa, 31 Desember 2024 "Tahun Baru: Hidup Baru Dengan Ketaatan Kepada-Nya" (Renungan Natal menyambut Tahun Baru 2025) Banyak...