Apakah Saudara telah membuat keputusan yang salah dan fatal akibatnya bagi hidup Saudara (studi, pekejaan, usaha/bisnis, keluarga/pasangan hidup, pelayanan, dsb)? Belajarlah dari kisah Yosua dan bangsa Israel yang tertipu karena telah membuat keputusan yang salah (Kitab Yosua 9:1-27). Iman terancam gagal pada saat mereka gagal menghubungkan keputusan mereka dengan kehendak Allah.
Perhatikan ayat 1-2. Pasal sebelumnya, bangsa Israel telah menang atas Yerikho dan Ai. Mereka telah menyimak kembali hukum-hukum Allah. Semua yang dinyatakan oleh Allah melalui Musa, telah ditulis kembali di atas batu dan dibacakan kepada seluruh rakyat. Peristiwa selanjutnya, raja-raja Kanaan berkumpul dan bersatu untuk menentang umat Allah. Bangsa Israel harus siap menghadapi tantangan berikutnya, tetapi gagal kembali. Bukan gagal dalam peperangan tetapi gagal mentaati Allah; tertipu dan salah mengambil keputusan tanpa meminta keputusan Allah.
Perhatikan ayat 3-13. Apa yang dilakukan orang-orang Gibeon? Bagaimana orang Gibeon yang cerdik telah menipu Yosua dan bangsa Israel? Gibeon terletak hanya 25 Km dari Israel di Gilgal dan ada dalam daftar Yosua untuk dihancurkan. Tetapi mereka berkata ”dari negeri yang jauh” (ayat 6,9). Mereka berbohong tentang makanan dan pakaian mereka (ayat 12). Menyebut “hambamu” (ayat 8, 9, 11) padahal musuh Israel. Bandingkan ayat 3 dan 9; orang-orang ini cukup bijak untuk tidak menyebutkan kemenangan Israel di Yerikho dan Ai, karena berita itu tidak dapat mencapai "negara jauh" mereka secepat itu. Kitab Ulangan 7:1-11 dan 20:10-20 menjelaskan bahwa Israel bisa menawarkan perdamaian ke kota-kota yang berada di luar Kanaan. Entah bagaimana orang Gibeon mengetahui tentang hukum ini dan memutuskan untuk menggunakannya untuk perlindungan mereka sendiri
Perhatikan ayat 14-15. Mengapa akhirnya Yosua dan orang Israel tertipu? Mereka pikir sudah bisa memutuskan berdasarkan pengetahuan Firman Tuhan dan memeriksa “fakta-fakta” (yang semu/tipuan) yang terlihat. Itu kelihatan sangat logis dan meyakinkan, tetapi semuanya salah. Mereka tidak bertanya kepada Allah dan meminta keputusan-Nya.
Bagaimana dengan Saudara? Apakah merasa sudah cukup dengan tahu Firman Allah dan bersedia mentaatinya? Atau pun gak usah tahu Firman Allah, asal mau rela melayani Allah maka Dia yang harus meluruskan semua jalan; sehingga Saudara tidak perlu berpikir untuk melakukannya dengan cara yang benar? Perhatikan, orang Israel pikir dirinya sudah rela, mau taat dan sudah tahu Firman Tuhan, tetapi ternyata masih tertipu juga.
Sebenarnya, Allah telah menyediakan sumber bagi bangsa Isreal untuk menghadapi kejadian terebut. Yosua sebenarnya dapat mencari kehendak Allah denga bertanya kepada Imam Besar (lihat Bilangan 27:18-21), namun dia tidak melakukannya. Meskipun pada mulanya dia telah curiga (Yosua 9:7), namun akhirnya dia tertipu. Pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya bukanlah segalanya.
Perhatikan ayat 16-27. Setelah mereka mengadakan perjanjian barulah mereka sadar sudah tertipu. Terjadilah perselisiha antara umat dan Pemimpin (ayat 18-19). Umat berpikir untuk membunuh orang Gibeon yang sudah menipu mereka, tetapi Pemimpin tidak setuju. Meskipun kesalahan yang dilakukan Israel hanya berdasarkan tipuan belaka, namun mereka telah melibatkan Allah, nama-Nya dan reputasi-Nya dalam kesalahan tersebut. Jika Israel melanggar perjanjian yang telah mereka buat sendiri, maka pelanggaran tersebut sama saja dengan menajiskan nama Tuhan, Allah Israel di antara seluruh bangsa Kanaan. Pelanggaran ini akan mendatangkan murka Allah, seperti peristiwa yang terjadi ratusan tahun berikutnya ketika Saul membunuh orang-orang Gibeon. Tuhan memberikan kelaparan selama 3 tahun dan 7 keturunan Saul mati digantung (Kitab 2 Samuel 21).
Terakhir, perhatikan ayat 27. Untung sekali Yosua tidak membunuh orang-orang Gibeon pada waktu itu. Ini menjadi anugerah Allah bagi Gibeon bisa hidup di tengah umat Allah. Menjadi apa orang Gibeon sekarang? Bayangkan, hidup baru orang Gibeon disekitar urusan mezbah TUHAN bisa menjadikan mereka akhirnya bertobat. Tidak ada bukti dalam Alkitab bahwa keturunan Gibeon menciptakan masalah bagi Israel. Dalam peristiwa ini, Yosua dan orang Israel bersalah; tetapi kelemahan manusia dipakai Allah untuk menggenapi rancana kasih-Nya.
Seperti Yosua dan bangsa Israel, Saudara saat ini tinggal di wilayah “musuh” dan harus senantiasa berhati-hati. Karena musuh tahu bagaimana menggunakan Firman Allah untuk tujuan mereka sendiri, umat Allah haruslah tetap waspada. Banyak orang cenderung mengijinkan keadaan di sekitar mereka mendahului penilaian mereka terhadap Firman Allah untuk memahami kehendak Allah dalam hidup mereka. Bagaimana dengan Saudara? "Jangan terburu membuat keputusan tanpa minta persetujuan-Nya". Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd070221)