Thursday, 20 July 2023



[Kisah Para Rasul 16:9-15, 40)
Kamis, 20 Juli 2023

Allah selalu mengasihi setiap pribadi yang beribadah kepada-Nya dan memperhatikan kebenaran-Nya. Allah membimbingnya kepada keselamatan.(Kisah Para Rasul 16:9-15, 40)

Tahukah Saudara, siapa orang Eropa pertama yang bertobat, percaya Yesus Kristus dan memberi diri di baptis? Ia adalah seorang bukan Yahudi, seorang pedagang, dari kelompok sosial masyarakat atas, yang merantau 1.200 Km dari tanah kelahirannya, seorang perempuan yang dianggap tidak penting di jamannya, tetapi namanya tercatat di Kitab Suci. Bacalah kisahnya di kitab Kisah Para Rasul 16:9-15, 40.

Bacalah ayat 9-12. Dalam perjalanan memberitakan Injil, Allah melarang Rasul Paulus dan Silas (teman sekerja Paulus) yang akan pergi ke suatu kota  dan membimbing mereka pergi ke Makedonia (tahun 49-50). Mereka taat, segera mencari kesempatan untuk pergi dan berjalan sejauh 16 Km sampai tiba di kota Filipi (wilayah negara Yunani saat ini) dan tinggal beberapa hari di sana. Kenyataannya, tidak ada penyambutan khusus untuk mereka dan tidak ada tempat ibadah (sinagoge) di kota ini. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Allah sudah mempersiapkan "sekolompok kecil" orang untuk bertemu mereka. Bagaimana Rasul Paulus dan Silas bisa bertemu mereka?

Bacalah ayat 13-14a. Kalau ada lebih dari 10 orang, maka orang Yahudi bisa membuat tempat ibadah (sinagoge) di kota wilayah kekuasaan Roma. Tetapi kalau kurang dari 10 orang, maka mereka membuat "tempat sembahyang/rumah doa" di luar kota dan biasanya dibuat di tepi sungai untuk memudahkan mereka mendapatkan air untuk upacara pembasuhan. Rasul Paulus dan Silas hanya menjumpai sedikit orang! Bukan sekedar sedikit orang, tetapi bahkan hanya beberapa perempuan! Ingat bahwa pada jaman itu, perempuan tidak dianggap penting! Dan Kitab Suci mencatat bahwa di antara perempuan-perempuan itu, ada yang bernama Lidia. Siapakah Lidia sehingga namanya tercatat di Kitab Suci dan dibaca orang hingga saat ini?

Bacalah ayat 14b-15a. Lidia adalah seorang penjual kain ungu yang mahal. Diperkirakan untuk mewarnai satu pon kain wool dibutuhkan bahan (tetesan semacam kerang) seharga kira-kira Rp. 3.500.000,-. Dia berasal dari kota Tiatira (daerah Turki), ribuan kilometer jauhnya. Sebagai perempuan kaya dan status sosial yang tinggi, tidak menghalangi Lidia untuk beribadah kepada Allah di luar pintu gerbang kota bersama dengan perempuan-perempuan lainnya. Allah membuka hatinya, sehingga Lidia memperhatikan apa yang dikatakan Rasul Paulus. Sekarang, Lidia tidak hanya beribadah kepada Allah tetapi juga percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, bertobat dan dibaptis. Bagaimana kehidupan Lidia setelah percaya, bertobat dan dibaptis?

Bacalah ayat 15b dan 40. Lidia membuktikan imannya dengan perbuatan baik dan ketaatan. Kitab Suci mencatat bahwa bukan hanya Lidia yang dibaptis tetapi seiisi rumahnya dibaptis juga. Setelah dibaptis, reaksi spontannya ialah mengundang Rasul Paulus dan Silas untuk tinggal di rumahnya. Perhatikan, Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma "usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!" (Roma 12:13) sebagai salah satu sifat orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tidak hanya sekali saja Lidia menyediakan rumahnya untuk Rasul Paulus. Pada kesempatan berikutnya ketika Allah membebaskan Rasul Paulus dan Silas dari penjara yang membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat, Rasul Paulus dan Silas pergi ke rumah Lidia sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Karena begitu berharganya jiwa-jiwa bagi Allah, Alkitab tidak hanya menceritakan kisah kebesaran-Nya di tengah bangsa-bangsa, tetapi juga kisah banyak orang secara pribadi yang dikasihi-Nya. Kasih-Nya tidak hanya dinyatakan melalui mujizat dalam peristiwa yang besar; tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari yang biasa, seperti Lidia. Ketaatan Rasul Paulus dan Silas dalam perjalanan memberitakan Injil telah menjadi alat Allah untuk menjangkau Lidia dan seisi rumahnya. Lidia yang merantau ke tempat yang jauh sebagai penjual kain ungu, tetap beribadah kepada Allah di luar gerbang kota bersama dengan sekumpulan perempuan lainnya. Ternyata, inilah rancangan Allah bagi Lidia untuk bertemu hamba-Nya; Allah membuka hati Lidia sehingga memperhatikan kebenaran Allah, percaya, bertobat dan dibaptis serta melakukan perbuatan baik sebagai bukti imannya.

Lidia adalah orang Eropa pertama yang bertobat, percaya Yesus Kristus dan dibaptis serta perempuan bertobat yang pertama kali ditulis namanya di kitab Kisah Para Rasul. Merupakan suatu anugerah baginya bahwa namanya dicatat dalam kitab Allah (meskipun namanya hanya dituliskan 3 kali di Kitab Suci) sehingga orang bisa membaca kisahnya sepanjang masa. Allah selalu mengasihi setiap pribadi yang beribadah kepada-Nya dan memperhatikan  kebenaran-Nya. Allah membimbingnya kepada keselamatan. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd20072023)

Friday, 14 July 2023



[Yosua 2:1-24; 6:22-25]
Jumat, 14 Juli 2023

"Tidak ada satu pribadi yang berada di luar jangkauan kasih dan setia Allah.Allah ingin mempertobatkan orang berdosa yang putus asa dengan iman".(Kitab Yosua 2:1-24; 6:22-25)

Seorang perempuan pelacur tinggal di pinggiran kota bangsa yang memiliki kebudayaan yang kotor dan tidak berTuhan. Tetapi, hidupnya berubah; ia menjadi salah satu pahlawan iman seperti Nuh, Ibrahim, Ishaq, Yakub, Yusuf dan Musa. Ribuan tahun berikutnya, namanya juga terdaftar dalam kitab-kitab Injil Perjanjian Baru. Bahkan dia menjadi perempuan yang terkenal karena namanya tercantum dalam silsilah kelahiran Yesus Kristus, Isa Al-Masih. Bagaimana seorang pelacur bisa menerima kasih karunia Allah ini? Bacalah kisah Rahab di kitab Yosua 2:1-24; 6:22-25.

Setelah keluar dari Mesir dan menghabiskan waktu 40 tahun mengembara di padang gurun, tibalah waktunya bagi anak-anak Israel untuk memasuki Tanah Perjanjian sebagai penggenapan janji Allah kepada nenek moyang mereka (Kitab Kejadian 12:7; 15:18). Mereka harus menyeberangi Sungai Yordan dan menaklukkan Yerikho, kota terdekat yang berbenteng. Di tengah latar belakang peristiwa inilah (masuknya Israel ke Tanah Perjanjian) terselip kisah Rahab, seorang pelacur.    

Bacalah ayat 1-7.Rahab, pelacur yang diuji imannya. Dari sudut pandang Yahudi, Rahab menghadapi tiga pukulan: seorang wanita, orang Kanaan (bangsa kafir) dan seorang pelacur. Rahab disebutkan 8 kali dalam Kitab Suci (Yosua 2:1, 3; 6:17, 23, 25; Matius 1:5; Ibrani 11:31; Yakobus 2:25), dan dalam 6 kejadian ini, namanya ditemukan dengan kata benda deskriptif tertentu, "pelacur". Tetapi Allah menuntun 2 orang pengintai utusan Yosua, menyeberangi Sungai Yordan hingga bertemu dengan pelacur itu. Dengan berani dan mempertaruhkan nyawanya sendiri, pelacur itu justru melindungi dan menyelamatkan para pengintai, musuh bangsanya sendiri. Rahab mulai meninggalkan bangsanya dan berpihak kepada bangsa yang menyembah Allah yang benar. Iman Rahab, yang tampaknya lemah, telah diuji.

Bacalah ayat 8-11. Pengakuan iman Rahab. Pengakuan iman Rahab yang berani didasarkan pada bukti yang dipahaminya. Pertama, bukti dari apa yang diketahuinya, "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu.." (ayat 9). Fakta yang menakjubkan adalah bahwa Rahab tidak memberontak terhadap kenyataan itu tetapi menerimanya. Dia mengakui kekalahan orang Kanaan dan hak kedaulatan orang Israel atas tanah itu. Kedua, bukti dari apa yang didengarnya, "Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir..." (ayat 10). Semua orang menjadi tawar hati serta jatuh semangatnya, tetapi Rahab menarik kesimpulan yang berbeda dan benar tentang Allah. Rahab menyimpulkan dari apa yang mereka ketahui bahwa "TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.." (ayat 11). Dan Rahab mengakui siapa Allah itu, Tuhan Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.

Bacalah ayat 12-21. Rahab menunjukkan imannya dalam tindakan. Fakta bahwa Rahab mengatakan "bersumpahlah kiranya demi TUHAN" (ayat 12) dan berani mencari perlindungan kepada Allah Israel menunjukkan bahwa ia memiliki iman yang benar. Iman Rahab juga mengakibatkan perhatian dan pelayanannya kepada orang lain. Rahab tetap tinggal di Yerikho dan meyakinkan seluruh isi keluarganya (ayah, ibu, saudara-saudara laki-laki dan perempuan serta orang-orang lain) agar mau tinggal dalam rumahnya untuk mendapat perlindungan Allah juga. Dan sebagai tanda, Rahab menggantungkan seutas tali merah di jendela rumahnya yang terletak di atas tembok kota 10 meter tingginya. Saat itu, belum ada yang tahu tentang rencana Allah menghancurkan kota Yerikho dengan cara merobohkan tembok kota itu.

Bacalah ayat 22-24; 6:22-25. Allah menghargai iman Rahab. Kedua pengintai sudah kembali dan menceritakan segala pengalaman mereka kepada Yosua. Rahab membangkitkan iman mereka bahwa Allah akan mengalahkan kota Yerikho (ayat 24). Meskipun demikian ada sesuatu yang belum diketahui oleh kedua pengintai ini, yaitu Allah hendak meruntuhkan tembok kota Yerikho, sedangkan Rahab dan keluarganya tinggal di atas tembok itu! Bagaimana janji mereka kepada Rahab dapat digenapi? Rahab meyakinkan seluruh isi keluarganya agar mau tetap tinggal dalam rumahnya selama 7 hari, sementara bangsa Israel berputar mengitari tembok Yerikho. Meskipun pada saat itu Rahab tidak tahu kapan kehancuran itu akan tiba, namun dengan imannya, dia harus berusaha meyakinkan seluruh keluarganya bahwa sewaktu-waktu tembok itu akan roboh. Pada akhirnya, seluruh tembok kota runtuh kecuali bagian rumah Rahab. Allah menyelamatkan Rahab dan seluruh isi rumahnya. Seorang pelacur di kota Yerikho itu sekarang hidup di tengah bangsa Israel, menikah dengan pria Yahudi, menjadi seorang ibu dan nenek moyang Yesus Kristus, namanya tercatat di Kitab Suci sebagai pahlawan iman.

Tidak ada satu pribadi yang berada di luar jangkauan kasih setia Allah,  bahkan pribadi yang telah jatuh ke dalam dosa. Allah ingin mempertobatkan orang berdosa yang putus asa dengan iman. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd14072023)

Monday, 3 July 2023



(Kejadian 29:16-35)
Senin, 3 Juli 2023

“Allah sanggup mendatangkan yang terbaik dari penderitaan dan kepedihan yang Saudara alami”.
(Renungan Kitab Kejadian 29:16-35)

Setengah tahun 2023 sudah terlewati. Apakah Saudara mengalami masa-masa sulit, tidak dikasihi, tertolak, diabaikan, dipermainkan, dilukai, direndahkan, menderita? Saudara mengatakan ”Apakah Allah tidak memperdulikan aku yang menderita dengan hati yang hancur ini?” Bacalah Kitab Kejadian 29:16-35; kisah hidup perempuan yang bernama Lea. Perempuan yang tertolak tetapi dikasihi Allah.

Bacalah ayat 16-21. Dalam pengaturan Allah, Yakub (anak Ishaq, cucu Ibrahim) tinggal di rumah Laban (saudara Ishaq). Laban mempunyai dua anak perempuan: yang lebih tua namanya Lea dan yang lebih muda namanya Rahel. ”Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya” (ayat 17). Tersirat kontras dan ada persaingan antara Lea dan Rahel. Yakub memilih lebih mencintai Rahel dan untuk mendapatkannya, Yakub bersedia bekerja 7 tahun pada Laban. Sikap Yakub dan kenyataan yang tidak secantik adiknya, bagi Lea menjadi masa yang menegangkan dan bisa memalukan bagi dirinya selama 7 tahun itu.

Bacalah ayat 22-27. Bayangkan, bagaimana perasaan Lea? Malam itu, Laban yang licik menipu Yakub (penipu ditipu) dan Lea (yang tidak dicintai Yakub) menjadi sarananya, dijadikan istri Yakub. Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea, bukan Rahel! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: "Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?" (ayat 25). Pagi itu, Lea melihat 2 pria penting dalam hidupnya (ayah dan suaminya) bertengkar di hadapannya. Bagaimana Lea diperlakukan oleh Laban ayahnya sendiri dan  oleh suaminya? Lea menjadi istri yang tidak dikehendaki dan tidak dicintai.

Bacalah ayat 28-30. Akhirnya, Rahel menjadi istri Yakub juga. Istri yang elok sikapnya dan cantik parasnya, serta lebih dicintai suaminya. "Yakub menghampiri Rahel juga, malah ia lebih cinta kepada Rahel dari pada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi" (ayat 30). Bagaimana dengan Lea? Bagaimana kehidupan Lea ke depannya, bersama suami yang tidak menginginkan dirinya, bersama istri kedua yang lebih dicintai suami, dan bersama budak-budak perempuan suaminya di rumahnya? Apalagi dalam dunia kuno saat itu, wanita dipandang rendah dan tidak mempunyai pilihan!

Bacalah ayat 31-35. Allah tidak diam. Allah tahu apa yang terjadi pada Lea. Allah sangat terlibat dalam semua situasi yang dialami Lea. "Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya" (ayat 31). Lea melahirkan anak laki-laki bagi Yakub. Dalam dunia kuno, seorang wanita yang bernilai adalah wanita yang melahirkan anak laki-laki bagi suaminya. Dan Allah menggunakan budaya ini untuk menyatakan kasih-Nya atas Lea untuk menemukan harga dirinya. Tetapi apakah itu cukup untuk Lea mendapat cinta suaminya?

Lea berusaha mendapatkan kasih dan perhatian dari suaminya, sampai kelahiran anaknya yang ke-4. Perhatikan nama yang diberikan untuk setiap anak dan apa yang menjadi alasannya! Ruben: "terlihat" dan kata Lea "sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku" (ayat 32). Simeon: "mendengar" (ayat 33). Lewi: "harapan untuk keterikatan". Lea berkata "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku" (ayat 34). Tersirat, tidak pula Lea dicintai oleh Yakub suaminya. Status sebagai istri yang pertama dan lahirnya anak laki-lakinya tidak menolong apa-apa. Dan lahirlah anak ke-4, Yehuda: "terpujilah Allah". Perhatikan, sekarang Lea tidak lagi fokus mencari perhatian manusia, "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN" (ayat 35). Kini, Lea mendapat harga diri dalam Allah daripada mencari perhatian dari Yakub suaminya. Tetapi kepedihan berlanjut ke kepedihan berikutnya. Rahel punya anak juga, yaitu Yusuf (Kejadian 30:24). Anak yang paling disayang dalam keluarga ini, karena lahir dari istri tersayang. Ingat, nantinya Yusuf sangat vital perannya bagi kesejahteraan keluarga besar Yakub; saat Yusuf menjadi Pejabat di Mesir (Kejadian 41-50). Bagaimana dengan anak Lea sendiri?

Allah sanggup mendatangkan yang terbaik dari penderitaan dan kepedihan yang dialami Lea. Justru Lea dan Yehuda masuk dalam kisah Yesus Kristus. Lea tidak menyadarinya bahwa dari keturunan Yehuda akan lahir Mesias, Juruselamat. Yehuda akan melahirkan keturunan yang menjadi leluhur Yesus Kristus (baca Injil Matius 1:1-3). Dan yang menarik, pada akhirnya Yakub pun sadar pada akhir hidupnya (Kejadian 49:8-12, 32). Dekat makam siapa Yakub ingin dikuburkan? Dekat Lea, yang tidak dikasihi sepanjang hidupnya tetapi sangat dikasihi oleh Allah.

Seberat apapun pergumulan hidup Saudara saat ini, Allah tidak pernah tinggal diam. Allah sanggup mendatangkan yang terbaik dari penderitaan dan kepedihan yang Saudara alami. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd03072023)

Thursday, 29 June 2023



[Kejadian 22:1-19]
Kamis, 29 Juni 2023

“Kesetiaan hanya teruji dalam ketaatan. Melalui kesulitan dan tantangan hidup, Allah menghidupkan imanku dan memurnikan kesetiaanku”
(Nabi Ibrahim mengurbankan Ishaq - Kitab Kejadian 22:1-19)

Apakah Saudara pernah mengalami situasi yang menekan hidup Saudara dan tidak bisa memahaminya serta berkata “mengapa semua ini harus terjadi menimpa diriku?” Belajarlah dari Nabi Ibrahim yang taat pada perintah Allah mengurbankan Ishaq, anak yang dikasihinya, sebagai kurban bakaran untuk Allah. Bacalah Kitab Taurat, Kejadian 22:1-19.

Ayat 1-2. Sudah kurang lebih 40 tahun Ibrahim mengenal Allah dan hidup bersama-sama Allah, tidak pernah mengalami peristiwa yang mengejutkan seperti ini. Elohim (Allah Pencipta) berfirman: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq... persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran". Kurban bakaran adalah istilah Ibrani "pemusnahan" yang berarti "pengurbanan yang habis terbakar." Perhatikan, ada beberapa hal yang bisa menggoncangkan iman Ibrahim.

Apakah Allah yang dikenal Ibrahim adalah Allah yang mengingkari janji-Nya sendiri; bukan Allah yang setia pada janji-Nya? Sebelumnya, Allah berjanji bahwa keturunan Ibrahim akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kejadian 12:2). Tetapi sekarang, Allah justru meminta Ibrahim untuk mengorbankan anaknya itu! Apakah Dia penuh cemburu, pembunuh sukacita; bukan Allah yang penuh kasih? Sarah, istri Ibrahim yang sudah lanjut usia itu melahirkan seorang anak laki-laki; ada tawa sukacita kebahagiaan di rumah tendanya. Anak itu diberi nama Ishaq yang artinya “tertawa”. Tetapi sekarang, Allah meminta anak itu!

Apakah Dia menuntut terlalu banyak, bukan Allah yang beranugerah? Bukankah sebelumnya seluruh hidup Ibrahim sudah diperhambakan kepada dan untuk Allah? Sejak 40 tahun silam, saat Ibrahim berusia 75 tahun; dia telah rela dan taat meninggalkan negerinya, rumah bapanya, sanak-saudaranya ke tempat yang ia tidak ketahui. Awalnya, Allah meminta Ibrahim untuk meninggalkan masa lalunya (Kejadian 12). Sekarang, Allah meminta Ibrahim untuk menyerahkan masa depannya (Kejadian 22).

Ayat 3-4. Tetapi, keesokan harinya pagi-pagi benar Ibrahim sudah bangun dan membawa Ishaq ke tempat yang telah ditetapkan Allah untuk dikurbankan. Tiga hari perjalanan yang ditempuhnya, menjadi perjalanan yang berat. Tetapi Ibrahim taat meskipun belum menemukan jawaban atas pergumulan “mengapa Allah memerintahkannya?"

Ayat 5-6. Tersirat bahwa Ibrahim memastikan bahwa dirinya dan Ishaq akan kembali dengan selamat. Ribuan tahun setelah peristiwa tersebut, penulis kitab Ibrani menjelaskan tentang iman Ibrahim (Kitab Ibrani 11:17-19). Ibrahim percaya pada kemahakuasaan dan integritas Allah bahwa Allah itu baik dan dapat disandari. Iman tidak menuntut penjelasan dan tidak bergantung pada perasaan. Iman bertumpu pada Allah dan janji kesetiaan Allah.

Ayat 7,8,14. Betapa gentarnya hati Ibrahim ketika mendengar anaknya bertanya, “tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” Tetapi dengan iman dan tetap mendaki, Ibrahim menjawab "Yehova Jireh! Allah yang menyediakan”. Meskipun mata Ibrahim tidak melihatnya, tetapi mata imannya melihat Allah menyediakan. Ketaatan memang tidak selalu menyenangkan, bahkan seringkali menyakitkan.

Ayat 10-14. Sesudah itu Ibrahim mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Ibrahim, Ibrahim." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Bayangkan, dengan hati dan tangan yang masih gemetar, Ibrahim memutus tali pengikat Ishaq, mencium peluk anak itu erat-erat. Ibrahim sadar, sebagaimana Ishaq hadir dalam kandungan Sarah juga oleh karena anugerah Allah. Pertolongan Allah hadir tepat pada waktunya, tidak pernah terlambat (bacalah Ibrani 4:16). Yehova Jireh! Allah yang menyediakan apa yang dibutuhkan, seekor domba jantan sebagai korban bakaran ganti Ishaq.

Perhatikan ayat 15-19. Sekali lagi Allah berfirman, “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri... Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku" (ayat 18). Alkitab menyebut Ibrahim sebagai "bapak orang beriman" dan "sahabat Allah" (Roma 4:16; Yakobus 2:21,23).

Bayangkan situasinya, di atas gunung itu Ibrahim memegang pundak anaknya, menunjuk ke langit dan berkata “Allah menguji iman dan kesetiaan kita. Melalui kesulitan dan tantangan hidup, iman kita dihidupkan dan kesetiaan kita dimurnikan, sekalipun itu berarti harus mengorbankan sesuatu yang kita kasihi”

Ishaq merupakan bayangan Kristus yang akan dipersembahkan sebagai Kurban Agung, satu-satunya kurban yang akhirnya bisa dan sepenuhnya menghapus dosa manusia. Yahya pembaptis berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Injil Yahya 1:29; 3:16). Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd29062023)

Tuesday, 27 June 2023



[1 Samuel 1-2]
Selasa, 27 Juni 2023


“Memiliki pengenalan yang dalam akan anugerah Kristus Yesus menimbulkan kepuasan hati dan ketangguhan emosi menghadapi apa pun di dalam hidupku"

(Renungan Kitab 1 Samuel 1-2)

 

Beberapa orang berpikir bahwa untuk menjadi tangguh, Saudara entah bagaimana harus bisa mengatasi emosi-emosi Saudara dan tidak dipengaruhi oleh emosi-emosi tersebut. Tetapi sebenarnya, orang yang tangguh dapat menyadari dan menerima emosi-emosi dirinya dan menemukan cara-cara yang sehat untuk menguasai emosi-emosinya.

Di antara orang beriman, ada kecenderungan untuk memiliki keyakinan bahwa "orang beriman yang baik" tidak pernah merasa terpuruk, cemas, frustasi ataupun marah, karena mereka ini selalu penuh dengan sukacita dari Allah. Kenyataannya orang beriman itu memiliki perasaan seperti yang lainnya, tetapi apa yang Saudara buat dengan perasaan-perasaan Saudara, itulah yang menentukan. Yesus sendiri "penuh kesengsaraan, sangat dihina" (Kitab Yesaya 53:3), menangis dalam dukacita (Injil Yohanes 11:35) dan mengalami penderitaan batin yang berat (Injil Lukas 22:44). Tetapi Dia menjalani semuanya dengan tangguh.

Bagaimana kondisi kesehatan emosi Saudara? Apa yang Saudara lakukan apabila Saudara merasa sedih, khawatir atau marah? Bacalah kitab 1 Samuel 1-2; kisah seorang perempuan bernama Hana. Hana adalah istri yang mandul, yang tersakiti oleh istri kedua dari suaminya, menerima ejekan, menangis, dan terjadi dari tahun ke tahun. Menariknya, Hana adalah salah satu perempuan yang namanya tercatat di dalam Alkitab dan menjadi bagian penting dalam sejarah kasih Allah menyelamatkan manusia berdosa. Nama Hana berarti "kesayangan atau belas kasihan". Renungkanlah, bagaimana Hana memiliki ketangguhan emosi di tengah penderitaan yang telah dialaminya bertahun-tahun lamanya itu.

Bacalah 1:1-8. Hana memperlihatkan cara bertahan yang berfokus pada emosi yang benar. Karena ia mandul, ia diejek Penina, istri kedua dari suaminya, yang memiliki anak laki-laki dan perempuan. Saat itu, perempuan mandul dianggap mendapat kutukan Allah dan tidak memiliki harapan dalam hidupnya. Ketika Penina mengejeknya, Hana menangis, sehingga suaminya menghiburnya.

Bacalah 1:9-11. Selain menangis tentang kemandulannya, Hana mencari Allah. Dan dengan hati pedih ia berdoa kepada Allah sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyampaikan kepada Allah segala perasaan dan keinginannya. Tidak tercatat bahwa Hana mencacimaki Penina (madunya) atau protes kepada Elkana (suaminya).

 

Bacalah 1:11-18. Pada waktu mengunjungi Bait Suci Allah, Hana terus berdoa dengan sungguh-sungguh begitu lama tanpa suara, sampai imam Eli (imam di Bait Suci Allah) menyangka ia sedang mabuk dan menegurnya. Hana memberitahukan kepada imam Eli bahwa ia tidak mabuk, namun “mencurahkan isi hati(nya) kepada Allah” dan berdoa “karena besarnya cemas dan sakit hati” (ayat 15-16). Imam Eli memberkatinya, dan hati Hana dikuatkan kembali.

 

Bacalah 1:19-28. Buah penderitaan dan ketangguhan Hana. Allah mengingat Hana dan menjawab doa Hana. Ia melahirkan seorang anak laki-laki bernama Samuel (“didengar Allah”). Hana dapat bersukacita atas kelahiran anaknya, meski ia tahu bahwa setelah menyapihnya, ia akan menyerahkan anaknya untuk dibesarkan di Bait Allah, sebagai anak yang dipersembahkan kepada Allah. Ia mengungkapkan emosinya lagi saat ia menyerahkan Samuel kepada imam Eli, namun kali ini dengan emosi sukacita.

 

Bacalah 2:1-2. Hana mengungkapkan kepuasan hati dan rasa syukurnya dengan terus berdoa, memuji dan menyembah Allah. Doa Hana "Sukacitaku meluap-luap dengan kabar dari Allah! Seakan aku terbang melayang di udara... menari-nari karena keselamatan dari Allah" (terjemahan versi The Message),

 

Bacalah 2:18-21. Hana sanggup menepati janjinya untuk menyerahkan Samuel yang masih anak-anak untuk melayani di Bait Allah yang berarti bertemu anaknya itu hanya setahun sekali saat Hana memberi Samuel pakaian yang dijahitnya sendiri. Dan perhatikan, Hana diindahkan Allah dan melahirkan 5 anak lagi (3 laki-laki, 2 perempuan).      

 

Di dalam Alkitab, nama Hana disebut hanya di dalam dua pasal saja; tetapi menjadi bagian penting dalam sejarah keselamatan manusia berdosa. Hana melahirkan Samuel yang menjadi nabi dan dianggap tokoh besar setelah Nabi Musa (Kitab Yeremia 15:1). Samuel dipakai Allah untuk mengusung datangnya kerajaan besar; melantik Daud menjadi raja yang besar (Kitab 1 Samuel 16:1-23; 19:18-24). Dan dari keturunan Daud akan lahir Mesias, Yesus Kristus (Isa Al-Masih) (Injil Matius 1:1-6). Bagaimana Saudara meneladani ketangguhan emosi Hana? Berserah kepada Allah, bersandar kepada-Nya dan bersukacita di dalam-Nya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. [erd270623]

Monday, 19 June 2023



 Permasalahan hidup bukanlah akhir perjalanan tetapi

perjalanan menuju kebahagiaan yang disediakan Allah.

Jangan menyerah; tabah dan berserahlah kepada-Nya.

(Renungan Kitab 1 Samuel 1:1-28; 2:18-21)

 

Di dalam kitab Perjanjian Lama Ibrani, kitab 1 dan 2 Samuel merupakan satu kitab. Kitab 1 Samuel sendiri meliputi hampir 100 tahun sejarah Israel (1105-1010 sebelum Masehi) dan merupakan mata rantai sejarah yang utama munculnya raja Israel. Kitab ini diberi nama menurut nabi Samuel, hakim terakhir dan terbesar bagi bangsanya dan yang pertama  dari garis nabi baru setelah Nabi Musa (Kisah Para Rasul 3:24; 13:20) serta dianggap tokoh terbesar setelah nabi Musa (Kitab Yeremia 15:1). Dia dipakai Allah untuk mengusung datangnya kerajaan besar bagi bangsanya; melantik Daud menjadi raja yang besar (Kitab 1 Samuel 16:1-23; 19:18-24). Dari keturunan Daud akan lahir Mesias, Yesus Kristus (Isa Al-Masih) (Injil Matius 1:1). Menariknya, kisah ini diawali dengan kisah duka nestapa, kisah istri yang mandul, yang tersakiti oleh istri kedua dari suaminya, menerima ejekan, menangis, menderita dari tahun ke tahun. Perempuan itu bernama Hana (“kesayangan, belas kasihan”), ibunya Nabi Samuel. Bacalah kitab 1 Samuel 1:1-28 dan 2:1-10, 18-21.

Perhatikan 1:1-8. Kesulitan hidup yang harus dijalani. Elkana (suami Hana) tampaknya bukan seorang laki-laki biasa. Silsilah keluarga (ayat 1) menyiratkan kehormatan keluarga Elkana yang kaya dan terpandang. Hal ini diperkuat dengan jenis dan jumlah persembahan yang dibawa oleh Elkana ke rumah Allah setiap tahun (ayat 4-5, 24-25). Tetapi Hana harus menerima keadaan bahwa bukan hanya dirinya satu-satunya wanita yang dinikahi oleh suaminya. Kenyataan bahwa Penina (madunya) memiliki anak sedangkan dirinya tidak, bahkan tidak bisa memiliki anak karena mandul (ayat 2) semakin menyedihkan hatinya. Jika suaminya meninggal, tidak ada lagi yang bisa diharapkan untuk kelangsungan hidupnya. Saat itu, istri yang mandul dianggap menerima kutukan Allah. Madunya selalu menyakiti hatinya (karena mandul) supaya gusar (hati yang bergejolak dan kacau), dari tahun ke tahun. Seharusnya Hana bersukacita setiap tahun pergi ke Bait Allah tetapi justru menjadi neraka karena madunya menyakiti hatinya (perlakuan yang tidak sepantasnya). Hana menangis dan tidak mau makan (ayat 6-7). Hana semakin sedih karena pernyataan suaminya yang terkesan egois karena mengutamakan keberhargaan dirinya sendiri (ayat 8). Perhatikan, bagaimana sikap Hana ketika menjalani penderitaan dalam hidupnya dan merasa tidak memiliki masa depan karena mandul?

Perhatikan ayat 9-18. Tabah, setia kepada Allah dan mencari-Nya. Hana tidak menyerah. Dia tetap tabah dalam pengertian sabar menjalani situasi hidup yang dialaminya. Penganiayaan dari madunya terhadap Hana mendorong Hana untuk mencari Allah (ayat 9-10). Hana menjalani hidup dengan keyakinan pada pemeliharaan Allah. "Tuhan semesta alam" adalah nama ilahi yang dipakai untuk pertama kalinya di dalam kitab nabi-nabi mulai dari kisah Hana ini (ayat 11). Gelar ini menyatakan kedaulatan Allah atas alam semesta dan meyakinkan Hana untuk tidak meninggalkan Allah dan tetap setia pada-Nya di tengah penderitaan yang dialami bertahun-tahun lamanya. Bertahun-tahun Hana menjalani penderitaan, bertahun-tahun juga Hana lewati dengan tetap datang ke Bait Allah "Tuhan semesta alam" (ayat 7). Hana dengan bebas dan sungguh-sungguh mencurahkan hatinya kepada Allah (ayat 13, 15; baca kitab Mazmur 142:2-3).

Perhatikan ayat 19-20. Buah penderitaan. Kecaman imam Eli kepada Hana berubah menjadi berkat. Hana pergi meninggalkan Bait Suci Allah dengan ketenangan hati (ayat 17-18). Allah menjawab doa Hana dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel ("didengar Allah") (ayat 19-20). Hana dapat bersukacita atas kelahiran anaknya, meski ia tahu bahwa setelah menyapihnya, ia akan menyerahkan anaknya untuk dibesarkan di Bait Allah, sebagai anak yang dipersembahkan kepada Allah (ayat 11).

Perhatikan ayat 21-28 dan 2:18-21. Kesetiaan kepada janji. Setelah bertahun-tahun dalam penderitaan dan berdoa kepada Allah, Hana yang mandul akhirnya diingat Allah dan melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi ia tetap setia pada janjinya. Atas persetujuan suaminya, setelah menyapih Samuel, Hana membawa anaknya yang masih kecil itu ke Bait Suci Allah (ayat 11, 21-24). Hana bertemu anaknya hanya setahun sekali pada saat ia memberinya pakaian yang dijahitnya sendiri (2:19). Perhatikan penjelasan Hana tentang nama anaknya; Samuel adalah anak yang diminta Hana dari Allah dan sekarang diserahkan kepada Allah apa yang diminta sesuai kehendak-Nya (ayat 17, 27-28). Hana terus mengungkapkan pujian, rasa syukur dan penyembahan kepada Allah (2:1-10). Dan Allah mengindahkan Hana, ia melahirkan 5 anak lagi (3 laki-laki, 2 perempuan); sementara itu Samuel tumbuh makin besar di hadapan Allah untuk melayani Dia (2:18-21).

Kisah Hana ("belas kasihan") adalah kisahnya Allah sendiri yang dengan kasih dan anugerah-Nya menyelamatkan manusia berdosa yang menderita dan yang tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Berserahlah kepada-Nya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd19062023).

Friday, 7 April 2023



Jumat Agung, 7 April 2023

Yesus menggenapi janji-Nya, mati bagi manusia berdosa; mereka yang percaya, bertumbuh imannya dan tangguh menanggung risiko.
(Yohanes 3:1-3; 7:50-51; 19:38-42)

Yesus beberapa kali berkata kepada para murid-Nya bahwa Ia akan menderita, dibunuh, dan pada hari ketiga akan dibangkitkan. Maka hati murid-murid-Nya pun sedih sekali (Matius 17:23). Yesus pun disalibkan dan mati di atas salib itu. Petrus, murid terdekat Yesus menyangkal-Nya (Yohanes 18:12-27). Semua murid meninggalkan Yesus dan melarikan diri (Markus 14:50). Siapa yang berani mengambil risiko berurusan dengan Mahkamah Agama dan penguasa Romawi dalam kasus terpidana mati tersebut? Kemudian, bagaimana rencana Allah tergenapi bahwa Yesus mati dan pada hari ketiga akan dibangkitkan?

Perhatikan. Rencana Allah pasti tergenapi. Dalam kedaulatan-Nya, Allah mempersiapkan dan memanggil pribadi-pribadi yang menyediakan diri dipakai-Nya. Bahkan pribadi-pribadi yang sebelumnya tidak diperhatikan banyak orang, tetapi berani tampil dengan segala risiko yang harus ditanggungnya. Pada saat semua murid meninggalkan Yesus dan melarikan diri ketika Yesus ditangkap, disalibkan dan mati di salib, tampillah Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Menjelang malam, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus untuk dikuburkan (Markus 15:43). Siapakah mereka dan bagaimana mereka tangguh menanggung risiko saat itu?

Siapakah Yusuf dari Arimatea? Namanya baru muncul dalam peristiwa penguburan Yesus. Ia adalah orang kaya (Matius 27:57), seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka (Markus 15:43), seorang yang baik lagi benar (Lukas 23:50). Ternyata murid Yesus juga, walaupun sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi (Yohanes 19:38).

Siapakah Nikodemus?  Nama Nikodemus hanya disebutkan 5 kali dalam 5 ayat di Injil Yohanes. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus; seorang Farisi, pemimpin Yahudi (Yohanes 3:1-2). Nikodemus juga bagian dari imam-imam kepala (Yohanes 7:50).

Perhatikan. Bagaimana Yusuf dari Arimatea merisikokan reputasi bahkan kehidupannya sendiri? Mahkamah Agama (70 orang anggota) adalah badan keagamaan umat Yahudi yang tertinggi, di bawah pimpinan Imam Besar. Mahkamah ini mempunyai kewibawaan penuh di bidang agama. Merekalah yang memegang peran penting dalam penghakiman dan penyaliban Yesus sebagai terpidana mati (Yohanes 18).

Tetapi sekarang, Yusuf dan Nikodemus memberanikan diri menghadap Pilatus dan menguburkan mayat Yesus terpidana mati yang disalib itu. Perhatikan bagaimana upaya terbaik yang mereka lakukan. Apa yang Saudara pikirkan tentang risiko yang harus Yusuf dan Nikodemus tanggung? Bagaimana dengan reputasi mereka sebagai bagian dari Mahkaham Agama dan imam-imam kepala yang menghakimi Yesus? Besar kemungkinan mereka kehilangan profesi dan statusnya itu. Bahkan mengalami kesulitan dalam hidup mereka selanjutnya.

Perhatikan. Yusuf dari Arimatea itu tidak takut lagi menyembunyikan diri sebagai murid Yesus (Yohanes 19:38). Begitu juga dengan Nikodemus, yang selalu disebut "yang dahulu datang waktu malam kepada Yesus" (Yohanes 3:2; 7:50; 19:39). Perhatikan, bagaimana pertumbuhan iman Nikodemus digambarkan dalam tiga kali kesempatan di Injil Yohanes. Pertama, Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari. Yesus berbicara tentang seseorang harus dilahirkan kembali untuk dapat melihat Kerajaan Allah, dan Nikodemus tidak memahaminya (Yohanes 3:1-21). Berikutnya, kisah Nikodemus muncul lagi saat dia mulai berani membela Yesus di hadapan imam-iman kepala dan orang-orang farisi lainnya (Yohanes 7:45-52). Tetapi yang terakhir, dikisahkan Nikodemus berani tampil dan merisikokan reputasinya saat menguburkan Yesus (Yohanes 19:38-42).

Perhatikan. Yusuf dan Nikodemus tampil dan menyediakan diri justru pada saat Yesus sudah mati disalibkan dan murid-murid meninggalkan Yesus, situasi yang tidak mudah. Melalui Yusuf dan Nikodemus, dalam pertumbuhan iman dan kapasitas/sumber daya yang mereka miliki, Tuhan memakai mereka untuk menggenapi karya keselamatan-Nya bagi orang berdosa. Semua yang tertulis tentang Yesus dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan Mazmur bahwa Mesias harus menderita, disalibkan, mati dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, pasti dan sudah digenapi (Matius 20:19; Lukas 24:44-48).

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Yesus Kristus sudah merisikokan reputasi-Nya sendiri; menggenapi janji-Nya menjadi manusia yang menderita dan mati di salib supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Seperti Yusuf dan Nikodemus, kiranya iman Saudara semakin bertumbuh dan tangguh menanggung risiko memberitakan kematian-Nya kepada dunia. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd07042023)

Selasa, 31 Desember 2024 "Tahun Baru: Hidup Baru Dengan Ketaatan Kepada-Nya" (Renungan Natal menyambut Tahun Baru 2025) Banyak...