Thursday, 10 August 2023



[Lukas 18:1-8]
Kamis, 10 Agustus 2023

(Injil Lukas 18:1-8)

Apakah Saudara merasa lelah, putus asa dan menyerah karena seolah-olah doa-doa Saudara tidak didengar dan dijawab Allah? Perhatikan pesan Yesus kepada murid-murid-Nya. Bacalah kisahnya di Injil Lukas 18:1-8.

Saat itu, murid-murid Yesus dan para pengikut-Nya mengalami berbagai penderitaan bahkan kematian karena iman mereka. Sebagai orang beriman yang menerima jaminan keselamatan dan menanti-nantikan Kerajaan Allah dinyatakan, pergumulan hidup bisa membuat mereka putus asa dan menyerah. Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Perhatikanlah perumpamaan tentang seorang janda yang selalu datang kepada seorang hakim untuk membela haknya.

Bacalah ayat 2-6. Hakim tersebut tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun (ayat 2). Dia tidak peduli pada Firman Allah (ayat 4a, lihat Lukas 10:26-27). Dia mengasihi diri sendiri (ayat  4b-5). Dia hakim yang lalim (ayat 6). Teks asli Alkitab menggambarkan bahwa dia hakim yang tidak jujur, tidak adil,korup, dan tidak punya rasa malu. Ironisnya, hakim itu sadar bahwa dirinya jahat, tidak takut Allah dan tidak menghormati seorangpun (ayat 4). Apakah Saudara pernah menjumpai orang seperti hakim ini; orang yang kepadanya Saudara mengharapkan bantuan? Bagaimana dengan Allah? Ingatlah peristiwa sebelumnya, Yesus melihat seorang janda yang berduka karena anak laki-laki satu-satunya meninggal. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan dan berkata kapada janda itu "Jangan menangis!" Bahkan, Yesuslah yang berinisiatif menghampiri janda itu dan membangkitan kembali anaknya (Injil Lukas 7:11-17).  Kontras dengan hakim yang lalim, Allah mereka adalah adalah Allah yang adil dan benar, mencintai manusia, bahkan rela berkorban demi manusia (Injil Yahya 3:16; Surat Filipi 2:6-8).

Bagaimana Yesus menggambarkan siapa janda itu dalam perumpamaan-Nya? Saat itu, seorang perempuan, terlebih lagi seorang janda, memiliki posisi yang rendah di masyarakat, seringkali dalam keadaan miskin dan tidak berdaya. Janda ini sudah beberapa waktu lamanya membela haknya dan tidak ada suami yang mendampinginya. Janda itu tidak memiliki klaim kebenaran atas kasusnya. Dia tidak punya "jalan masuk" kepada hakim yang lalim itu, datang tanpa diundang bahkan hakim itu menolak kehadirannya dan tidak bersedia membela kasus yang dihadapinya (ayat 3,4). Tetapi perhatikan, bagaimana murid-murid Yesus dan para pengikut-Nya memiliki keadaan yang berbeda.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan Allah sebagai Bapak peduli terhadap anak-anak-Nya (Injil Lukas 11:13).  Mereka memiliki akses yang terbuka ke hadirat Bapak-nya dan dapat datang kapan saja untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan (Surat Efesus 2:18; 3:12; Ibrani 4:14-16; 10:19-22). Ketika mereka berdoa, mereka memiliki di sorga seorang Juruselamat yang adalah Pembela (Surat 1 Yahya 2:1) dan Imam Besar (Ibrani 2:17-18), yang secara konsisten mewakili mereka di hadapan takhta Allah. Ketika mereka berdoa, mereka dapat membuka Firman Allah (Kitab Suci) dan mengklaim banyak kebenaran janji Allah yang tidak pernah gagal. Mereka juga memiliki Roh Kudus yang membantu mereka dalam berdoa (Surat Roma 8:26-27). Janda itu datang ke pengadilan dengan hakim yang lalim; tetapi mereka datang ke takhta kasih karunia (Surat Ibrani 4:14-16).

Bagaimana usaha janda itu memperoleh pembelaan atas haknya? Ketekunan, dia selalu datang, beberapa waktu lamanya tetapi tidak putus asa (ayat 3,4). Terus saja ia datang, siang malam, dan akhirnya mendapatkan jawaban (ayat 5,7). Teks Kitab Suci menggambarkan "janda itu mengganggu terus sehingga hakim itu tidak bisa tidur, sehingga matanya menjadi biru seperti bekas dipukul". Satu-satunya alasan hakim yang lalim membantu janda itu adalah karena dia takut akan "lelah" dan merusak reputasinya. Tetapi, Allah menjawab doa untuk kemuliaan-Nya dan untuk kebaikan umat-Nya serta Dia tidak jengkel ketika umat datang menghampiri-Nya.

Bacalah ayat 6-8. Jadi, terlebih baik lagi Allah yang menjawab doa anak-anak-Nya dan Yesus menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (ayat 1). Sebelumnya, Yesus pernah berkata, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan....Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Injil Lukas 11:9-13).

Nikmatilah persekutuan yang penuh kasih dengan Allah. Senantiasa berdoa, jangan putus asa dan jangan menyerah, karena Allah pasti menjawabnya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd10082023)

Thursday, 27 July 2023



[Lukas 7:11-15]
Kamis, 27 Juli 2023

Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!"
(Injil Lukas 7:11-15)

Adalah kesedihan ketika ditinggalkan oleh orang yang dicintai, suami/istri, anak, orang tua, keluarga atau sahabat. Bukan ditinggalkan dalam waktu 2-3 hari, beberapa minggu/bulan bahkan beberapa tahun, tetapi ditinggalkan untuk selamanya karena kematian yang memisahkannya. Dan bagaimana ucapan "Turut berdukacita. Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan" bisa menolong di tengah duka, tangisan dan bayang-bayang hari-hari berikutnya yang suram? Perhatikanlah kisah seorang janda yang ditinggal mati anak satu-satunya yang masih muda dan bagaimana Allah berbelaskasihan kepadanya; bacalah Injil Lukas 7:11-15.

Kisah sebelumnya, seorang Perwira mencari Yesus dan dengan sangat meminta pertolongan kepada Yesus untuk menyembuhkan seorang hambanya yang sakit keras dan hampir mati. Yesus memenuhi permintaan seorang Perwira itu, hambanya yang sakit telah sehat kembali (Injil Lukas 7:1-10). Tetapi sekarang, Injil mencatat peristiwa berikutnya; Yesus menolong seorang janda, anak tunggalnya yang sudah mati dihidupkan kembali. Tidak ada permintaan dari janda itu tetapi Yesus-lah yang menghampirinya dan bertindak memberikan pertolongan.

Bacalah ayat 11-12. Di kota sebelumnya, banyak orang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon telah berkumpul mendengarkan Yesus dan disembuhkan dari penyakit dan juga dari kerasukan roh-roh jahat (Injil Lukas 6:17-19). Orang banyak tersebut berkerumun dan berbondong-bondong menyertai Yesus sampai dekat pintu gerbang kota Nain. Mereka bertemu dengan sekumpulan banyak orang dari kota itu. Di tengah hiruk-pikuk banyak orang inilah, Yesus memberikan perhatiannya pada satu pribadi; seorang janda yang berduka hendak memakamkan anak laki-lakinya, anak tunggalnya yang masih muda.

Betapa lembah air mata penderitaan menjadi bagian hidup manusia sehari-hari di dunia ini. Seorang anak laki-laki muda, harapan satu-satunya dari seorang ibu yang melahirkannya, ternyata harus meninggal dunia mendahului ibunya. Saat itu, seorang janda yang hidup sebatang kara tidak punya pengharapan lagi dalam hidupnya. Dan di dalam waktu, tempat dan kesempatan yang tepat, Yesus bertemu dengan janda itu.  

Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" (ayat 13). Tidak seperti beberapa peristiwa sebelumnya, orang-orang mencari Yesus dan memohon pertolongan; tetapi tidak ada perkataan dari janda itu atau orang lain yang memohon kepada Yesus untuk menghidupkan kembali anak yang sudah mati. Yesus melihat janda itu tetapi tidak seperti orang lain melihat. Yesus melihat, berbelaskasihan dan mengambil inisiatif untuk menghampiri janda itu, hadir di dalam duka mendalam yang sedang dialami. Pada peristiwa yang lain, hati Yesus sedih, sangat terharu dan Dia ikut menangis bersama keluarga yang berduka (Injil Yohanes 11:33-35). Yesus tidak sedang menyalahkan janda itu ketika mengatakan "Jangan menangis!", tetapi berbelaskasihan dan memberikan penghiburan serta pengharapan (yang tidak bisa diberikan oleh orang lain) bahwa Yesus akan menghidupkan anak yang sudah mati itu. Penulis Injil memberikan gelar "Tuhan" kepada Yesus untuk pertamakalinya melalui peristiwa ini.

Bacalah ayat 14. Yesus berbelaskasihan dan bertindak dengan kuasa-Nya. Yesus tidak menunggu sampai ada yang meminta-Nya untuk menolong, tetapi mengambil inisiatif dan menghentikan para pengusung jenazah anak itu; peristiwa yang sebenarnya tidak dipikirkan dan diharapkan oleh janda itu dan orang-orang lainnya. Dan hanya dengan perkataan-Nya (firman-Nya) yang penuh kuasa, Yesus menghidupkan anak yang sudah mati itu. Yesus berkuasa atas hidup dan maut.

Bacalah ayat 15. Pada akhirnya, tangisan dan duka mendalam seorang janda menjadi kesaksian belas kasihan dan kuasa Allah yang bisa dilihat banyak orang. Anak yang sudah mati dan siap dimakamkan itu sekarang bangkit, bangun, duduk dan mulai berkata-kata; menjadi bukti terjadinya mujizat. Setelah anak itu bangkit, Yesus menyerahkan anak itu kembali kepada ibunya. Peristiwa yang mengharukan, menggambarkan terjadinya pemulihan dalam hidup janda itu. Ia memulai hidup yang baru dengan harapan baru bersama anak tunggal laki-lakinya yang hidup lagi.

Yesus Kristus adalah Tuhan yang berkuasa atas hidup dan maut. Yesus juga membangkitkan Lazarus yang sudah mati. Yesus berkata kepada Marta (saudaranya Lazarus), "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (bacalah Yohanes 11:1-44). Apakah Saudara sedang menghadapi duka yang mendalam, menangis dan putus asa menantikan pertolongan Allah? Percayalah bahwa Allah tidak meninggalkan Saudara. Dia adalah Allah yang melihat dan berbelas kasihan kepada yang berduka; berinisiatif hadir di hidup mereka dan berkuasa memberikan pertolongan yang tepat pada waktu yang tepat. Tuhan Yesus Kristus memberkati Saudara. (erd27072023)

Thursday, 20 July 2023



[Kisah Para Rasul 16:9-15, 40)
Kamis, 20 Juli 2023

Allah selalu mengasihi setiap pribadi yang beribadah kepada-Nya dan memperhatikan kebenaran-Nya. Allah membimbingnya kepada keselamatan.(Kisah Para Rasul 16:9-15, 40)

Tahukah Saudara, siapa orang Eropa pertama yang bertobat, percaya Yesus Kristus dan memberi diri di baptis? Ia adalah seorang bukan Yahudi, seorang pedagang, dari kelompok sosial masyarakat atas, yang merantau 1.200 Km dari tanah kelahirannya, seorang perempuan yang dianggap tidak penting di jamannya, tetapi namanya tercatat di Kitab Suci. Bacalah kisahnya di kitab Kisah Para Rasul 16:9-15, 40.

Bacalah ayat 9-12. Dalam perjalanan memberitakan Injil, Allah melarang Rasul Paulus dan Silas (teman sekerja Paulus) yang akan pergi ke suatu kota  dan membimbing mereka pergi ke Makedonia (tahun 49-50). Mereka taat, segera mencari kesempatan untuk pergi dan berjalan sejauh 16 Km sampai tiba di kota Filipi (wilayah negara Yunani saat ini) dan tinggal beberapa hari di sana. Kenyataannya, tidak ada penyambutan khusus untuk mereka dan tidak ada tempat ibadah (sinagoge) di kota ini. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Allah sudah mempersiapkan "sekolompok kecil" orang untuk bertemu mereka. Bagaimana Rasul Paulus dan Silas bisa bertemu mereka?

Bacalah ayat 13-14a. Kalau ada lebih dari 10 orang, maka orang Yahudi bisa membuat tempat ibadah (sinagoge) di kota wilayah kekuasaan Roma. Tetapi kalau kurang dari 10 orang, maka mereka membuat "tempat sembahyang/rumah doa" di luar kota dan biasanya dibuat di tepi sungai untuk memudahkan mereka mendapatkan air untuk upacara pembasuhan. Rasul Paulus dan Silas hanya menjumpai sedikit orang! Bukan sekedar sedikit orang, tetapi bahkan hanya beberapa perempuan! Ingat bahwa pada jaman itu, perempuan tidak dianggap penting! Dan Kitab Suci mencatat bahwa di antara perempuan-perempuan itu, ada yang bernama Lidia. Siapakah Lidia sehingga namanya tercatat di Kitab Suci dan dibaca orang hingga saat ini?

Bacalah ayat 14b-15a. Lidia adalah seorang penjual kain ungu yang mahal. Diperkirakan untuk mewarnai satu pon kain wool dibutuhkan bahan (tetesan semacam kerang) seharga kira-kira Rp. 3.500.000,-. Dia berasal dari kota Tiatira (daerah Turki), ribuan kilometer jauhnya. Sebagai perempuan kaya dan status sosial yang tinggi, tidak menghalangi Lidia untuk beribadah kepada Allah di luar pintu gerbang kota bersama dengan perempuan-perempuan lainnya. Allah membuka hatinya, sehingga Lidia memperhatikan apa yang dikatakan Rasul Paulus. Sekarang, Lidia tidak hanya beribadah kepada Allah tetapi juga percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, bertobat dan dibaptis. Bagaimana kehidupan Lidia setelah percaya, bertobat dan dibaptis?

Bacalah ayat 15b dan 40. Lidia membuktikan imannya dengan perbuatan baik dan ketaatan. Kitab Suci mencatat bahwa bukan hanya Lidia yang dibaptis tetapi seiisi rumahnya dibaptis juga. Setelah dibaptis, reaksi spontannya ialah mengundang Rasul Paulus dan Silas untuk tinggal di rumahnya. Perhatikan, Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma "usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!" (Roma 12:13) sebagai salah satu sifat orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tidak hanya sekali saja Lidia menyediakan rumahnya untuk Rasul Paulus. Pada kesempatan berikutnya ketika Allah membebaskan Rasul Paulus dan Silas dari penjara yang membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat, Rasul Paulus dan Silas pergi ke rumah Lidia sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Karena begitu berharganya jiwa-jiwa bagi Allah, Alkitab tidak hanya menceritakan kisah kebesaran-Nya di tengah bangsa-bangsa, tetapi juga kisah banyak orang secara pribadi yang dikasihi-Nya. Kasih-Nya tidak hanya dinyatakan melalui mujizat dalam peristiwa yang besar; tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari yang biasa, seperti Lidia. Ketaatan Rasul Paulus dan Silas dalam perjalanan memberitakan Injil telah menjadi alat Allah untuk menjangkau Lidia dan seisi rumahnya. Lidia yang merantau ke tempat yang jauh sebagai penjual kain ungu, tetap beribadah kepada Allah di luar gerbang kota bersama dengan sekumpulan perempuan lainnya. Ternyata, inilah rancangan Allah bagi Lidia untuk bertemu hamba-Nya; Allah membuka hati Lidia sehingga memperhatikan kebenaran Allah, percaya, bertobat dan dibaptis serta melakukan perbuatan baik sebagai bukti imannya.

Lidia adalah orang Eropa pertama yang bertobat, percaya Yesus Kristus dan dibaptis serta perempuan bertobat yang pertama kali ditulis namanya di kitab Kisah Para Rasul. Merupakan suatu anugerah baginya bahwa namanya dicatat dalam kitab Allah (meskipun namanya hanya dituliskan 3 kali di Kitab Suci) sehingga orang bisa membaca kisahnya sepanjang masa. Allah selalu mengasihi setiap pribadi yang beribadah kepada-Nya dan memperhatikan  kebenaran-Nya. Allah membimbingnya kepada keselamatan. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd20072023)

Friday, 14 July 2023



[Yosua 2:1-24; 6:22-25]
Jumat, 14 Juli 2023

"Tidak ada satu pribadi yang berada di luar jangkauan kasih dan setia Allah.Allah ingin mempertobatkan orang berdosa yang putus asa dengan iman".(Kitab Yosua 2:1-24; 6:22-25)

Seorang perempuan pelacur tinggal di pinggiran kota bangsa yang memiliki kebudayaan yang kotor dan tidak berTuhan. Tetapi, hidupnya berubah; ia menjadi salah satu pahlawan iman seperti Nuh, Ibrahim, Ishaq, Yakub, Yusuf dan Musa. Ribuan tahun berikutnya, namanya juga terdaftar dalam kitab-kitab Injil Perjanjian Baru. Bahkan dia menjadi perempuan yang terkenal karena namanya tercantum dalam silsilah kelahiran Yesus Kristus, Isa Al-Masih. Bagaimana seorang pelacur bisa menerima kasih karunia Allah ini? Bacalah kisah Rahab di kitab Yosua 2:1-24; 6:22-25.

Setelah keluar dari Mesir dan menghabiskan waktu 40 tahun mengembara di padang gurun, tibalah waktunya bagi anak-anak Israel untuk memasuki Tanah Perjanjian sebagai penggenapan janji Allah kepada nenek moyang mereka (Kitab Kejadian 12:7; 15:18). Mereka harus menyeberangi Sungai Yordan dan menaklukkan Yerikho, kota terdekat yang berbenteng. Di tengah latar belakang peristiwa inilah (masuknya Israel ke Tanah Perjanjian) terselip kisah Rahab, seorang pelacur.    

Bacalah ayat 1-7.Rahab, pelacur yang diuji imannya. Dari sudut pandang Yahudi, Rahab menghadapi tiga pukulan: seorang wanita, orang Kanaan (bangsa kafir) dan seorang pelacur. Rahab disebutkan 8 kali dalam Kitab Suci (Yosua 2:1, 3; 6:17, 23, 25; Matius 1:5; Ibrani 11:31; Yakobus 2:25), dan dalam 6 kejadian ini, namanya ditemukan dengan kata benda deskriptif tertentu, "pelacur". Tetapi Allah menuntun 2 orang pengintai utusan Yosua, menyeberangi Sungai Yordan hingga bertemu dengan pelacur itu. Dengan berani dan mempertaruhkan nyawanya sendiri, pelacur itu justru melindungi dan menyelamatkan para pengintai, musuh bangsanya sendiri. Rahab mulai meninggalkan bangsanya dan berpihak kepada bangsa yang menyembah Allah yang benar. Iman Rahab, yang tampaknya lemah, telah diuji.

Bacalah ayat 8-11. Pengakuan iman Rahab. Pengakuan iman Rahab yang berani didasarkan pada bukti yang dipahaminya. Pertama, bukti dari apa yang diketahuinya, "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu.." (ayat 9). Fakta yang menakjubkan adalah bahwa Rahab tidak memberontak terhadap kenyataan itu tetapi menerimanya. Dia mengakui kekalahan orang Kanaan dan hak kedaulatan orang Israel atas tanah itu. Kedua, bukti dari apa yang didengarnya, "Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir..." (ayat 10). Semua orang menjadi tawar hati serta jatuh semangatnya, tetapi Rahab menarik kesimpulan yang berbeda dan benar tentang Allah. Rahab menyimpulkan dari apa yang mereka ketahui bahwa "TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.." (ayat 11). Dan Rahab mengakui siapa Allah itu, Tuhan Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.

Bacalah ayat 12-21. Rahab menunjukkan imannya dalam tindakan. Fakta bahwa Rahab mengatakan "bersumpahlah kiranya demi TUHAN" (ayat 12) dan berani mencari perlindungan kepada Allah Israel menunjukkan bahwa ia memiliki iman yang benar. Iman Rahab juga mengakibatkan perhatian dan pelayanannya kepada orang lain. Rahab tetap tinggal di Yerikho dan meyakinkan seluruh isi keluarganya (ayah, ibu, saudara-saudara laki-laki dan perempuan serta orang-orang lain) agar mau tinggal dalam rumahnya untuk mendapat perlindungan Allah juga. Dan sebagai tanda, Rahab menggantungkan seutas tali merah di jendela rumahnya yang terletak di atas tembok kota 10 meter tingginya. Saat itu, belum ada yang tahu tentang rencana Allah menghancurkan kota Yerikho dengan cara merobohkan tembok kota itu.

Bacalah ayat 22-24; 6:22-25. Allah menghargai iman Rahab. Kedua pengintai sudah kembali dan menceritakan segala pengalaman mereka kepada Yosua. Rahab membangkitkan iman mereka bahwa Allah akan mengalahkan kota Yerikho (ayat 24). Meskipun demikian ada sesuatu yang belum diketahui oleh kedua pengintai ini, yaitu Allah hendak meruntuhkan tembok kota Yerikho, sedangkan Rahab dan keluarganya tinggal di atas tembok itu! Bagaimana janji mereka kepada Rahab dapat digenapi? Rahab meyakinkan seluruh isi keluarganya agar mau tetap tinggal dalam rumahnya selama 7 hari, sementara bangsa Israel berputar mengitari tembok Yerikho. Meskipun pada saat itu Rahab tidak tahu kapan kehancuran itu akan tiba, namun dengan imannya, dia harus berusaha meyakinkan seluruh keluarganya bahwa sewaktu-waktu tembok itu akan roboh. Pada akhirnya, seluruh tembok kota runtuh kecuali bagian rumah Rahab. Allah menyelamatkan Rahab dan seluruh isi rumahnya. Seorang pelacur di kota Yerikho itu sekarang hidup di tengah bangsa Israel, menikah dengan pria Yahudi, menjadi seorang ibu dan nenek moyang Yesus Kristus, namanya tercatat di Kitab Suci sebagai pahlawan iman.

Tidak ada satu pribadi yang berada di luar jangkauan kasih setia Allah,  bahkan pribadi yang telah jatuh ke dalam dosa. Allah ingin mempertobatkan orang berdosa yang putus asa dengan iman. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd14072023)

Monday, 3 July 2023



(Kejadian 29:16-35)
Senin, 3 Juli 2023

“Allah sanggup mendatangkan yang terbaik dari penderitaan dan kepedihan yang Saudara alami”.
(Renungan Kitab Kejadian 29:16-35)

Setengah tahun 2023 sudah terlewati. Apakah Saudara mengalami masa-masa sulit, tidak dikasihi, tertolak, diabaikan, dipermainkan, dilukai, direndahkan, menderita? Saudara mengatakan ”Apakah Allah tidak memperdulikan aku yang menderita dengan hati yang hancur ini?” Bacalah Kitab Kejadian 29:16-35; kisah hidup perempuan yang bernama Lea. Perempuan yang tertolak tetapi dikasihi Allah.

Bacalah ayat 16-21. Dalam pengaturan Allah, Yakub (anak Ishaq, cucu Ibrahim) tinggal di rumah Laban (saudara Ishaq). Laban mempunyai dua anak perempuan: yang lebih tua namanya Lea dan yang lebih muda namanya Rahel. ”Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya” (ayat 17). Tersirat kontras dan ada persaingan antara Lea dan Rahel. Yakub memilih lebih mencintai Rahel dan untuk mendapatkannya, Yakub bersedia bekerja 7 tahun pada Laban. Sikap Yakub dan kenyataan yang tidak secantik adiknya, bagi Lea menjadi masa yang menegangkan dan bisa memalukan bagi dirinya selama 7 tahun itu.

Bacalah ayat 22-27. Bayangkan, bagaimana perasaan Lea? Malam itu, Laban yang licik menipu Yakub (penipu ditipu) dan Lea (yang tidak dicintai Yakub) menjadi sarananya, dijadikan istri Yakub. Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea, bukan Rahel! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: "Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?" (ayat 25). Pagi itu, Lea melihat 2 pria penting dalam hidupnya (ayah dan suaminya) bertengkar di hadapannya. Bagaimana Lea diperlakukan oleh Laban ayahnya sendiri dan  oleh suaminya? Lea menjadi istri yang tidak dikehendaki dan tidak dicintai.

Bacalah ayat 28-30. Akhirnya, Rahel menjadi istri Yakub juga. Istri yang elok sikapnya dan cantik parasnya, serta lebih dicintai suaminya. "Yakub menghampiri Rahel juga, malah ia lebih cinta kepada Rahel dari pada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi" (ayat 30). Bagaimana dengan Lea? Bagaimana kehidupan Lea ke depannya, bersama suami yang tidak menginginkan dirinya, bersama istri kedua yang lebih dicintai suami, dan bersama budak-budak perempuan suaminya di rumahnya? Apalagi dalam dunia kuno saat itu, wanita dipandang rendah dan tidak mempunyai pilihan!

Bacalah ayat 31-35. Allah tidak diam. Allah tahu apa yang terjadi pada Lea. Allah sangat terlibat dalam semua situasi yang dialami Lea. "Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya" (ayat 31). Lea melahirkan anak laki-laki bagi Yakub. Dalam dunia kuno, seorang wanita yang bernilai adalah wanita yang melahirkan anak laki-laki bagi suaminya. Dan Allah menggunakan budaya ini untuk menyatakan kasih-Nya atas Lea untuk menemukan harga dirinya. Tetapi apakah itu cukup untuk Lea mendapat cinta suaminya?

Lea berusaha mendapatkan kasih dan perhatian dari suaminya, sampai kelahiran anaknya yang ke-4. Perhatikan nama yang diberikan untuk setiap anak dan apa yang menjadi alasannya! Ruben: "terlihat" dan kata Lea "sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku" (ayat 32). Simeon: "mendengar" (ayat 33). Lewi: "harapan untuk keterikatan". Lea berkata "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku" (ayat 34). Tersirat, tidak pula Lea dicintai oleh Yakub suaminya. Status sebagai istri yang pertama dan lahirnya anak laki-lakinya tidak menolong apa-apa. Dan lahirlah anak ke-4, Yehuda: "terpujilah Allah". Perhatikan, sekarang Lea tidak lagi fokus mencari perhatian manusia, "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN" (ayat 35). Kini, Lea mendapat harga diri dalam Allah daripada mencari perhatian dari Yakub suaminya. Tetapi kepedihan berlanjut ke kepedihan berikutnya. Rahel punya anak juga, yaitu Yusuf (Kejadian 30:24). Anak yang paling disayang dalam keluarga ini, karena lahir dari istri tersayang. Ingat, nantinya Yusuf sangat vital perannya bagi kesejahteraan keluarga besar Yakub; saat Yusuf menjadi Pejabat di Mesir (Kejadian 41-50). Bagaimana dengan anak Lea sendiri?

Allah sanggup mendatangkan yang terbaik dari penderitaan dan kepedihan yang dialami Lea. Justru Lea dan Yehuda masuk dalam kisah Yesus Kristus. Lea tidak menyadarinya bahwa dari keturunan Yehuda akan lahir Mesias, Juruselamat. Yehuda akan melahirkan keturunan yang menjadi leluhur Yesus Kristus (baca Injil Matius 1:1-3). Dan yang menarik, pada akhirnya Yakub pun sadar pada akhir hidupnya (Kejadian 49:8-12, 32). Dekat makam siapa Yakub ingin dikuburkan? Dekat Lea, yang tidak dikasihi sepanjang hidupnya tetapi sangat dikasihi oleh Allah.

Seberat apapun pergumulan hidup Saudara saat ini, Allah tidak pernah tinggal diam. Allah sanggup mendatangkan yang terbaik dari penderitaan dan kepedihan yang Saudara alami. Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd03072023)

Thursday, 29 June 2023



[Kejadian 22:1-19]
Kamis, 29 Juni 2023

“Kesetiaan hanya teruji dalam ketaatan. Melalui kesulitan dan tantangan hidup, Allah menghidupkan imanku dan memurnikan kesetiaanku”
(Nabi Ibrahim mengurbankan Ishaq - Kitab Kejadian 22:1-19)

Apakah Saudara pernah mengalami situasi yang menekan hidup Saudara dan tidak bisa memahaminya serta berkata “mengapa semua ini harus terjadi menimpa diriku?” Belajarlah dari Nabi Ibrahim yang taat pada perintah Allah mengurbankan Ishaq, anak yang dikasihinya, sebagai kurban bakaran untuk Allah. Bacalah Kitab Taurat, Kejadian 22:1-19.

Ayat 1-2. Sudah kurang lebih 40 tahun Ibrahim mengenal Allah dan hidup bersama-sama Allah, tidak pernah mengalami peristiwa yang mengejutkan seperti ini. Elohim (Allah Pencipta) berfirman: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq... persembahkanlah dia di sana sebagai kurban bakaran". Kurban bakaran adalah istilah Ibrani "pemusnahan" yang berarti "pengurbanan yang habis terbakar." Perhatikan, ada beberapa hal yang bisa menggoncangkan iman Ibrahim.

Apakah Allah yang dikenal Ibrahim adalah Allah yang mengingkari janji-Nya sendiri; bukan Allah yang setia pada janji-Nya? Sebelumnya, Allah berjanji bahwa keturunan Ibrahim akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kejadian 12:2). Tetapi sekarang, Allah justru meminta Ibrahim untuk mengorbankan anaknya itu! Apakah Dia penuh cemburu, pembunuh sukacita; bukan Allah yang penuh kasih? Sarah, istri Ibrahim yang sudah lanjut usia itu melahirkan seorang anak laki-laki; ada tawa sukacita kebahagiaan di rumah tendanya. Anak itu diberi nama Ishaq yang artinya “tertawa”. Tetapi sekarang, Allah meminta anak itu!

Apakah Dia menuntut terlalu banyak, bukan Allah yang beranugerah? Bukankah sebelumnya seluruh hidup Ibrahim sudah diperhambakan kepada dan untuk Allah? Sejak 40 tahun silam, saat Ibrahim berusia 75 tahun; dia telah rela dan taat meninggalkan negerinya, rumah bapanya, sanak-saudaranya ke tempat yang ia tidak ketahui. Awalnya, Allah meminta Ibrahim untuk meninggalkan masa lalunya (Kejadian 12). Sekarang, Allah meminta Ibrahim untuk menyerahkan masa depannya (Kejadian 22).

Ayat 3-4. Tetapi, keesokan harinya pagi-pagi benar Ibrahim sudah bangun dan membawa Ishaq ke tempat yang telah ditetapkan Allah untuk dikurbankan. Tiga hari perjalanan yang ditempuhnya, menjadi perjalanan yang berat. Tetapi Ibrahim taat meskipun belum menemukan jawaban atas pergumulan “mengapa Allah memerintahkannya?"

Ayat 5-6. Tersirat bahwa Ibrahim memastikan bahwa dirinya dan Ishaq akan kembali dengan selamat. Ribuan tahun setelah peristiwa tersebut, penulis kitab Ibrani menjelaskan tentang iman Ibrahim (Kitab Ibrani 11:17-19). Ibrahim percaya pada kemahakuasaan dan integritas Allah bahwa Allah itu baik dan dapat disandari. Iman tidak menuntut penjelasan dan tidak bergantung pada perasaan. Iman bertumpu pada Allah dan janji kesetiaan Allah.

Ayat 7,8,14. Betapa gentarnya hati Ibrahim ketika mendengar anaknya bertanya, “tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” Tetapi dengan iman dan tetap mendaki, Ibrahim menjawab "Yehova Jireh! Allah yang menyediakan”. Meskipun mata Ibrahim tidak melihatnya, tetapi mata imannya melihat Allah menyediakan. Ketaatan memang tidak selalu menyenangkan, bahkan seringkali menyakitkan.

Ayat 10-14. Sesudah itu Ibrahim mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Ibrahim, Ibrahim." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Bayangkan, dengan hati dan tangan yang masih gemetar, Ibrahim memutus tali pengikat Ishaq, mencium peluk anak itu erat-erat. Ibrahim sadar, sebagaimana Ishaq hadir dalam kandungan Sarah juga oleh karena anugerah Allah. Pertolongan Allah hadir tepat pada waktunya, tidak pernah terlambat (bacalah Ibrani 4:16). Yehova Jireh! Allah yang menyediakan apa yang dibutuhkan, seekor domba jantan sebagai korban bakaran ganti Ishaq.

Perhatikan ayat 15-19. Sekali lagi Allah berfirman, “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri... Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku" (ayat 18). Alkitab menyebut Ibrahim sebagai "bapak orang beriman" dan "sahabat Allah" (Roma 4:16; Yakobus 2:21,23).

Bayangkan situasinya, di atas gunung itu Ibrahim memegang pundak anaknya, menunjuk ke langit dan berkata “Allah menguji iman dan kesetiaan kita. Melalui kesulitan dan tantangan hidup, iman kita dihidupkan dan kesetiaan kita dimurnikan, sekalipun itu berarti harus mengorbankan sesuatu yang kita kasihi”

Ishaq merupakan bayangan Kristus yang akan dipersembahkan sebagai Kurban Agung, satu-satunya kurban yang akhirnya bisa dan sepenuhnya menghapus dosa manusia. Yahya pembaptis berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Injil Yahya 1:29; 3:16). Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd29062023)

Tuesday, 27 June 2023



[1 Samuel 1-2]
Selasa, 27 Juni 2023


“Memiliki pengenalan yang dalam akan anugerah Kristus Yesus menimbulkan kepuasan hati dan ketangguhan emosi menghadapi apa pun di dalam hidupku"

(Renungan Kitab 1 Samuel 1-2)

 

Beberapa orang berpikir bahwa untuk menjadi tangguh, Saudara entah bagaimana harus bisa mengatasi emosi-emosi Saudara dan tidak dipengaruhi oleh emosi-emosi tersebut. Tetapi sebenarnya, orang yang tangguh dapat menyadari dan menerima emosi-emosi dirinya dan menemukan cara-cara yang sehat untuk menguasai emosi-emosinya.

Di antara orang beriman, ada kecenderungan untuk memiliki keyakinan bahwa "orang beriman yang baik" tidak pernah merasa terpuruk, cemas, frustasi ataupun marah, karena mereka ini selalu penuh dengan sukacita dari Allah. Kenyataannya orang beriman itu memiliki perasaan seperti yang lainnya, tetapi apa yang Saudara buat dengan perasaan-perasaan Saudara, itulah yang menentukan. Yesus sendiri "penuh kesengsaraan, sangat dihina" (Kitab Yesaya 53:3), menangis dalam dukacita (Injil Yohanes 11:35) dan mengalami penderitaan batin yang berat (Injil Lukas 22:44). Tetapi Dia menjalani semuanya dengan tangguh.

Bagaimana kondisi kesehatan emosi Saudara? Apa yang Saudara lakukan apabila Saudara merasa sedih, khawatir atau marah? Bacalah kitab 1 Samuel 1-2; kisah seorang perempuan bernama Hana. Hana adalah istri yang mandul, yang tersakiti oleh istri kedua dari suaminya, menerima ejekan, menangis, dan terjadi dari tahun ke tahun. Menariknya, Hana adalah salah satu perempuan yang namanya tercatat di dalam Alkitab dan menjadi bagian penting dalam sejarah kasih Allah menyelamatkan manusia berdosa. Nama Hana berarti "kesayangan atau belas kasihan". Renungkanlah, bagaimana Hana memiliki ketangguhan emosi di tengah penderitaan yang telah dialaminya bertahun-tahun lamanya itu.

Bacalah 1:1-8. Hana memperlihatkan cara bertahan yang berfokus pada emosi yang benar. Karena ia mandul, ia diejek Penina, istri kedua dari suaminya, yang memiliki anak laki-laki dan perempuan. Saat itu, perempuan mandul dianggap mendapat kutukan Allah dan tidak memiliki harapan dalam hidupnya. Ketika Penina mengejeknya, Hana menangis, sehingga suaminya menghiburnya.

Bacalah 1:9-11. Selain menangis tentang kemandulannya, Hana mencari Allah. Dan dengan hati pedih ia berdoa kepada Allah sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyampaikan kepada Allah segala perasaan dan keinginannya. Tidak tercatat bahwa Hana mencacimaki Penina (madunya) atau protes kepada Elkana (suaminya).

 

Bacalah 1:11-18. Pada waktu mengunjungi Bait Suci Allah, Hana terus berdoa dengan sungguh-sungguh begitu lama tanpa suara, sampai imam Eli (imam di Bait Suci Allah) menyangka ia sedang mabuk dan menegurnya. Hana memberitahukan kepada imam Eli bahwa ia tidak mabuk, namun “mencurahkan isi hati(nya) kepada Allah” dan berdoa “karena besarnya cemas dan sakit hati” (ayat 15-16). Imam Eli memberkatinya, dan hati Hana dikuatkan kembali.

 

Bacalah 1:19-28. Buah penderitaan dan ketangguhan Hana. Allah mengingat Hana dan menjawab doa Hana. Ia melahirkan seorang anak laki-laki bernama Samuel (“didengar Allah”). Hana dapat bersukacita atas kelahiran anaknya, meski ia tahu bahwa setelah menyapihnya, ia akan menyerahkan anaknya untuk dibesarkan di Bait Allah, sebagai anak yang dipersembahkan kepada Allah. Ia mengungkapkan emosinya lagi saat ia menyerahkan Samuel kepada imam Eli, namun kali ini dengan emosi sukacita.

 

Bacalah 2:1-2. Hana mengungkapkan kepuasan hati dan rasa syukurnya dengan terus berdoa, memuji dan menyembah Allah. Doa Hana "Sukacitaku meluap-luap dengan kabar dari Allah! Seakan aku terbang melayang di udara... menari-nari karena keselamatan dari Allah" (terjemahan versi The Message),

 

Bacalah 2:18-21. Hana sanggup menepati janjinya untuk menyerahkan Samuel yang masih anak-anak untuk melayani di Bait Allah yang berarti bertemu anaknya itu hanya setahun sekali saat Hana memberi Samuel pakaian yang dijahitnya sendiri. Dan perhatikan, Hana diindahkan Allah dan melahirkan 5 anak lagi (3 laki-laki, 2 perempuan).      

 

Di dalam Alkitab, nama Hana disebut hanya di dalam dua pasal saja; tetapi menjadi bagian penting dalam sejarah keselamatan manusia berdosa. Hana melahirkan Samuel yang menjadi nabi dan dianggap tokoh besar setelah Nabi Musa (Kitab Yeremia 15:1). Samuel dipakai Allah untuk mengusung datangnya kerajaan besar; melantik Daud menjadi raja yang besar (Kitab 1 Samuel 16:1-23; 19:18-24). Dan dari keturunan Daud akan lahir Mesias, Yesus Kristus (Isa Al-Masih) (Injil Matius 1:1-6). Bagaimana Saudara meneladani ketangguhan emosi Hana? Berserah kepada Allah, bersandar kepada-Nya dan bersukacita di dalam-Nya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. [erd270623]

Selasa, 31 Desember 2024 "Tahun Baru: Hidup Baru Dengan Ketaatan Kepada-Nya" (Renungan Natal menyambut Tahun Baru 2025) Banyak...