[Yosua 9:1-27]
Minggu, 7
Februari 2021
"Jangan
terburu membuat keputusan tanpa minta persetujuan-Nya"
Bacaan: Yosua
9:1-27
Apakah Saudara
telah membuat keputusan yang salah dan fatal akibatnya bagi hidup Saudara (studi, pekejaan, usaha/bisnis, keluarga/pasangan
hidup, pelayanan, dsb)? Belajarlah dari kisah Yosua dan bangsa Israel yang
tertipu karena telah membuat keputusan yang salah (Kitab Yosua 9:1-27). Iman terancam
gagal pada saat mereka gagal menghubungkan keputusan mereka dengan kehendak
Allah.
Perhatikan ayat 1-2. Pasal sebelumnya, bangsa Israel telah menang atas Yerikho dan Ai.
Mereka telah menyimak kembali hukum-hukum Allah. Semua yang dinyatakan oleh Allah
melalui Musa, telah ditulis kembali di atas batu dan dibacakan kepada seluruh
rakyat. Peristiwa selanjutnya, raja-raja Kanaan berkumpul dan bersatu untuk
menentang umat Allah. Bangsa Israel harus siap menghadapi tantangan berikutnya,
tetapi gagal kembali. Bukan gagal dalam peperangan tetapi gagal mentaati Allah;
tertipu dan salah mengambil keputusan tanpa meminta keputusan Allah.
Perhatikan ayat 3-13. Apa yang dilakukan orang-orang Gibeon? Bagaimana orang Gibeon yang
cerdik telah menipu Yosua dan bangsa Israel? Gibeon terletak
hanya 25 Km dari Israel di Gilgal dan ada dalam daftar Yosua untuk dihancurkan.
Tetapi mereka berkata ”dari negeri yang jauh” (ayat 6,9). Mereka berbohong tentang
makanan dan pakaian mereka (ayat 12). Menyebut “hambamu” (ayat 8, 9, 11)
padahal musuh Israel. Bandingkan ayat 3 dan 9; orang-orang ini cukup
bijak untuk tidak menyebutkan kemenangan Israel di Yerikho dan Ai, karena
berita itu tidak dapat mencapai "negara jauh" mereka secepat itu. Kitab Ulangan
7:1-11 dan 20:10-20 menjelaskan bahwa Israel bisa menawarkan perdamaian ke
kota-kota yang berada di luar Kanaan. Entah bagaimana orang Gibeon
mengetahui tentang hukum ini dan memutuskan untuk menggunakannya untuk
perlindungan mereka sendiri
Perhatikan ayat 14-15. Mengapa akhirnya Yosua dan orang Israel tertipu? Mereka pikir sudah bisa memutuskan berdasarkan pengetahuan Firman Tuhan dan memeriksa
“fakta-fakta” (yang semu/tipuan) yang terlihat. Itu kelihatan sangat logis dan meyakinkan, tetapi semuanya salah. Mereka tidak bertanya kepada Allah dan meminta
keputusan-Nya.
Bagaimana dengan Saudara?
Apakah merasa sudah cukup dengan tahu Firman Allah dan bersedia mentaatinya? Atau
pun gak usah tahu Firman Allah, asal
mau rela melayani Allah maka Dia yang harus meluruskan semua
jalan; sehingga Saudara tidak perlu berpikir untuk melakukannya dengan
cara yang benar?
Perhatikan, orang Israel pikir dirinya
sudah rela, mau taat dan sudah tahu Firman Tuhan, tetapi ternyata masih
tertipu juga.
Sebenarnya, Allah telah menyediakan sumber bagi bangsa Isreal
untuk menghadapi kejadian terebut. Yosua sebenarnya dapat mencari kehendak
Allah denga bertanya kepada Imam Besar (lihat Bilangan 27:18-21), namun dia
tidak melakukannya. Meskipun pada mulanya dia telah curiga (Yosua 9:7), namun
akhirnya dia tertipu. Pengalaman dan pengetahuan yang
dimilikinya bukanlah segalanya.
Perhatikan ayat 16-27. Setelah mereka mengadakan perjanjian barulah mereka sadar sudah tertipu. Terjadilah perselisiha
antara umat dan Pemimpin (ayat 18-19). Umat berpikir untuk
membunuh orang Gibeon yang sudah menipu mereka, tetapi Pemimpin tidak setuju. Meskipun kesalahan yang dilakukan Israel hanya berdasarkan tipuan
belaka, namun mereka telah melibatkan Allah, nama-Nya dan reputasi-Nya dalam
kesalahan tersebut. Jika Israel melanggar perjanjian yang telah mereka
buat sendiri, maka pelanggaran tersebut
sama saja dengan menajiskan nama Tuhan, Allah Israel di antara seluruh bangsa
Kanaan. Pelanggaran ini akan mendatangkan murka Allah,
seperti peristiwa yang terjadi ratusan tahun berikutnya ketika Saul membunuh
orang-orang Gibeon. Tuhan memberikan kelaparan selama 3 tahun dan 7 keturunan
Saul mati digantung (Kitab 2 Samuel 21).
Terakhir, perhatikan ayat
27. Untung sekali Yosua tidak membunuh orang-orang Gibeon pada waktu itu. Ini menjadi anugerah Allah bagi Gibeon bisa hidup di tengah umat Allah. Menjadi apa orang Gibeon
sekarang? Bayangkan, hidup baru orang Gibeon disekitar urusan mezbah TUHAN bisa
menjadikan mereka akhirnya bertobat. Tidak ada bukti dalam Alkitab
bahwa keturunan Gibeon menciptakan masalah bagi Israel. Dalam peristiwa ini, Yosua dan orang Israel bersalah; tetapi
kelemahan manusia dipakai Allah untuk menggenapi rancana kasih-Nya.
Seperti Yosua dan
bangsa Israel, Saudara saat ini tinggal
di wilayah “musuh”
dan harus senantiasa berhati-hati. Karena
musuh tahu bagaimana menggunakan Firman Allah untuk tujuan mereka sendiri, umat Allah haruslah tetap waspada. Banyak orang cenderung mengijinkan
keadaan di sekitar mereka mendahului penilaian
mereka terhadap Firman Allah untuk memahami kehendak Allah dalam hidup
mereka. Bagaimana dengan Saudara? "Jangan terburu membuat keputusan
tanpa minta persetujuan-Nya". Tuhan Yesus Kristus memberkati. (erd070221)